R.I.P Stevani Heni

Akhirnya, tim DVI beserta jajarannya berhasil mengidentifikasi seluruh korban musibah Sukhoi SJ100 di puncak gunung salak Bogor. Jumlah jenazah yang diidentifikasi tersebut sesuai dengan manifest penumpang yang dirilis sebelumnya oleh tim Basarnas. Terdapat 45 orang baik kru maupun penumpang yang berada dalam sesi ke-2 Joyflight pesawat komersial yang dirilis oleh pabrikan Sukhoi Russia itu. 

Di antara manifest penumpang, terdapat satu nama yang saya kenal sebelumnya. Ia adalah Heni Stevani atau Stevani Heni. Penamaan ini terkadang terbalik karena terkadang dalam satu maskapai terdapat beberapa nama yang sama, sehingga untuk memudahkannya nama yang unik dijadikan nama kabin. Stevani adalah salah satu calon pramugari SkyAviation yang menjadi penumpang. Saya mengenalnya ketika ia masih bekerja di Sriwijaya Air.

Kala itu, Stevany menjadi salah satu model kover majalah Sriwijaya Air yang baru saja memperkenalkan seragam barunya. Saya beserta redaksi memiliki konsep untuk menampilkan berbagai karakter wajah yang merepresentasikan keberagaman Indonesia. Setelah berkonsultasi dengan Retno Widuri, chief FA waktu itu, akhirnya terpilihlah Stevani bersama tiga awak kabin lainnya, yakni Juita, Meirina, dan Raeny. Mereka memang berasal dari daerah yang berbeda, Stevani dari Sumatera, Juita dari Sulawesi, Meirina dari Jawa, dan Raeny dari Bali. Nama terakhir sekarang menjadi ikon kabin Sriwijaya Air. Pemotretan pun dilakukan pada medio Februari 2009.

Walaupun diakui bukan sebagai model handal, namun Stevani bersama rekan sangat koperatif dan mudah diajak bercanda. Mereka sendiri satu sama lain termasuk jarang berada dalam schedule yang sama sehingga keakraban di antara mereka terjalin. Amoy, demikian panggilan akrabnya, menurut saya adalah orang yang ramah dan mudah bergaul. Ia memiliki kisah sendirinya kala itu. Ketika melakukan make up, yang dilakukan oleh tim LT Pro Professional Make Up, ia ‘keukeuh’, untuk mempertahankan model poni ‘jatuh’nya. Akibatnya, ketika sesi foto berlangsung, berulangkali poni Stevani harus dibenarkan karena menutupi alis bahkan mata. Namun, setelah selesai, saya dan tim sangat puas hingga kemudian terbit pada edisi Februari 2009.

Pertemuan saya dengan Stevani setelah itu hanya beberapa kali saja, sekadar menanyakan kabar. Hingga akhirnya saya terkejut ketika ia termasuk dalam penumpang Sukhoi SJ-100. Ternyata sudah hampir 6 bulan ia sekarang bekerja di SkyAviation. Kejadian itu juga berdampak pada blog saya. Keyword Heni Stevani mengantar para pengakses web singgah di blog ini. Mungkin mereka penasaran akan sosok Stevani dan ingin menyampaikan ucapan bela sungkawa. Mudah-mudahan catatan saya ini dapat menjadi kenangan bagi mereka yang ditinggalkan oleh Stevani. Semua Kerabat dan Teman Sejawat sangat berduka atas kejadian ini. Istirahatlah dalam damai Stevani.