Parade Batik Danar Hadi

“Batik, Pengaruh Jaman dan Lingkungan”

Pada tanggal 22 Agustus 2008, bersamaan dengan pembukaan House of Danar Hadi di Solo, diadakan parade batik Danar Hadi. Sejumlah koleksi batik-batik yang dimiliki oleh Danar Hadi dipertunjukkan kepada para undangan yang hadir. Konsep parade batik ini sendiri adalah penggabungan antara batik dan fesyen yang diadopsi dari buku karya H. Santosa Doellah, pendiri Danar Hadi, yakni “Batik, Pengaruh Jaman dan Lingkungan”.

Para model yang berjalan anggun di tengah-tengah House of Danar Hadi memakai sejumlah koleksi batik sesuai pengaruh jamannya seperti batik Belanda, batik Cina, batik Jepang, hingga batik khas Indonesia. Selain itu juga ditampilkan batik yang menjadi ciri khas keraton Solo maupun Yogyakarta. Semua batik tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri.

Seperti batik Belanda yang memiliki motif bercerita. Cerita yang diangkat adalah dongeng anak-anak yang melegenda seperti putri salju atau hans & grethel. Selain itu ornamen hewan khas Eropa seperti angsa dan bunga-bungaan seperti tulip banyak terdapat pada batik Belanda. Secara umum batik Belanda memiliki model sarung.

Lain lagi dengan batik Cina yang memiliki dua struktur warna yang dikenal dengan motif pagi-sore. Motif pagi-sore memiliki dua corak warna berbeda yakni terang dan gelap. Sedangkan ornamen hewan legenda Cina banyak dijumpai seperti naga, kura-kura, dan burung phoenix.

Walaupun sama-sama keraton, namun motif keraton Solo dan keraton Yogyakarta berbeda. Dahulu motif keraton Yogyakarta merupakan motif yang mewah dan hanya boleh dikenakan oleh keluarga kerajaan keraton Yogyakarta saja. Hal ini yang membuat motif keraton Solo lebih dinamis dibandingkan dengan motif keraton Yogyakarta yang statis. Yang paling khas dari motif keraton Yogyakarta adalah motif parang dan ceplok dengan ukuran yang besar. Sedangkan motif keraton Solo ukurannya lebih kecil dan lebih ritmis.

Edisi September 2008