Museum Benteng Vredeburg

Kisah Nasionalisme dalam Diorama

Berkunjung ke kota Jogjakarta seperti tidak afdol jika tidak melewati jalan Malioboro. Sambil berjalan kaki, melewati jajaran pedagang kaki lima, mencari batik, atau berburu barang antik di pasar Beringharjo. Namun tahukah Anda, ternyata masih di kawasan yang sama terdapat sebuah benteng peninggalan kolonial Belanda? Ya, sebuah benteng bernama Vredeburg. Benteng yang dahulunya digunakan untuk mendukung keberadaan Belanda di Jogjakarta.

Benteng Vredeburgh oleh pemerintah Indonesia kini diubah menjadi sebuah museum yang menceritakan perjuangan bangsa Indonesia dalam merintis, merebut, dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan imperialisme. Pemilihan kota Jogjakarta menjadi beralasan karena banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di kota gudeg ini. Selain itu juga banyak tokoh nasional yang berasal dari kota ini. Ke semuanya kemudian diabadikan dalam diorama-diorama.

Diorama-diorama dalam benteng Vredeburgh ini terbagi dalam tiga ruang pameran. Pembagian ini berdasarkan urut-urutan sejarah berdirinya negara Republik Indonesia. Mulai dari merintis hingga mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Masuk dalam ruang pameran diorama I, Anda dapat melihat diorama kongres Budi Utomo yang pertama, 3-5 Oktober 1908, di Jl. AM. Sangaji Jogjakarta, dipimpin langsung oleh Dr. Wahidin Soedirohusodo.

Masih dalam ruangan yang sama, terdapat diorama dimana KH Ahmad Dahlan sedang menyampaikan gagasan berdirinya organisasi Muhammadiyah di Jogjakarta pada 18 November 1912. Di susul kemudian dengan berdirinya Taman Siswa pada 3 Juli 1922 yang dipelopori oleh Ki Hadjar Dewantara. Peran perempuan Indonesia tak luput dalam diorama kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22-25 Desember 1928.

Ruang pameran diorama II bercerita tentang kisah heroik sepanjang tahun 1945, tahun bersejarah kemerdekaan Indonesia. Dimulai dari rapat dukungan proklamasi dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX di gedeung Wilis, Kepatihan, Jogjakarta pada 19 Agustus 1945, penurunan bendera Hinomaru dan pengibaran bendera Merah Putih di gedung Cokan Kantai, hingga kongres pemuda di alun-alun utara dan balai Mataram kota Jogjakarta yang dihadiri oleh Soekarno-Hatta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan Sri Paku Alam VIII.

Pada diorama ketiga nasionalisme lebih ditonjolkan dalam bentuk perjuangan fisik dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Yang paling Anda ingat tentu serangan agresi militer Belanda II pada 19 Desember 1948. Saat itu Belanda menyerang kota Jogjakarta dan lapangan terbang Maguwo. Rakyat kemudian berjuang melakukan perlawanan dipimpin oleh panglima besar Sudirman. Belanda kewalahan dengan taktik gerilya Sudirman dan kemerdekaan pun dapat dipertahankan.

Melalui diorama inilah, sejarah nasionalisme bangsa Indonesia tersaji. Diorama ini menjadi sebuah cerita bagaimana rakyat Indonesia ingin merdeka dari belenggu penjajahan. Mereka tidak ingin generasi anak cucu kelak bernasib sama dengan mereka. Kini, setelah 63 tahun merdeka, masihkah nasionalisme ada di hati kita?