Mugi naik pesawat

Mugi masih asyik bermain dengan miniatur pesawat. Miniatur pesawat penumpang seri boeing pemberian pamannya. Paman Mugi adalah seorang pilot maskapai penerbangan nasional. Mugi ingin sekali seperti pamannya untuk bisa menerbangkan pesawat. Keinginan itu pun disampaikan kepada pamannya. “Boleh, Mugi bisa jadi pilot asal belajar yang rajin ya”, ujar paman. Pesan paman mugi selalu diingatnya. Mugi jadi rajin belajar untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang pilot.

Keinginan menjadi pilot sepertinya sangat menggebu di benak Mugi. Banyak gambar-gambar pesawat ditempel di kamarnya. Padahal mugi sendiri belum pernah naik pesawat. Diam-diam orang tua mugi ingin memberikan kejutan. Ya, liburan kali ini orang tua Mugi ingin liburan ke Surabaya. Kabar ini membuat Mugi senang bukan kepalang. Dia sudah tak sabar ingin naik pesawat

Hari yang ditunggu pun tiba. Mugi dan orangtuanya tiba di bandara. “Pesawat kita yang mana ayah?”, tanya Mugi. Ayah mugi pun tersenyum sambil menunjuk sebuah pesawat berwarna putih dengan garis berwarna merah dan biru. Mereka pun bergegas masuk.

Sapa hangat selamat datang dari pramugari membuatnya bertanya, “mereka siapa ibu?”. Ibu pun menjawab,”mereka yang menemani penumpang di dalam pesawat, namanya pramugari”, sambil tersenyum

Deru mesin pesawat mulai menderu, sabuk pengaman dipasangkan. Mugi menyimak penjelasan pramugari tentang penggunaan pelampung. Akhirnya pesawat take-off. Mugi sangat bersemangat di dalam pesawat. Kebetulan cuaca cerah sehingga dia bisa melihat kota dari balik awan yang semakin lama semakin mengecil. “Betul-betul indah”, gumamnya dalam hati.

Di dalam perjalanan, pramugari menghampiri Mugi. Walaupun masih kecil namun Mugi tidak tampak takut padahal baru kali ini Mugi naik pesawat. Orang tua mugi lalu meminta sang pramugari mengajaknya berkeliling. Mugi pun diajak pramugari melihat bagian belakang tempat toilet dan tempat duduk pramugari.

Di depan, pramugari melihatkan ruangan kokpit tempatnya pilot. “Kita nggak boleh masuk karena akan menggangu captain pilot”, jelasnya pada mugi. Mugi pun diantarkan kembali ke kursinya.

Kembali mugi melihat awan-awan dibalik jendela sampai akhirnya tertidur lelap. Tak terasa pesawat telah mendarat di bandara Juanda Surabaya. Satu per satu penumpang turun.

Orang tua mugi tidak langsung turun, setelah menurunkan tas Ayah meminta sesuatu kepada pramugari. Pramugari pun bergegas menuju kokpit. Entah apa yang dibicarakan, Mugi dan orang tuanya kemudian turun. Mereka tidak langsung pulang seolah menunggu sesuatu.

Tak lama, pilot pesawat menghampiri Mugi sambil membawa miniatur pesawat. Ia pun memberikan pesawat itu kepada Mugi seraya berkata, “Suatu saat Mugi harus bisa jadi kayak captain!”, memberi semangat. Pertemuan itu diakhiri dengan foto bersama dengan latar belakang pesawat dan bandara. Mugi sangat senang. Foto itu kemudian dipajang di dalam kamar Mugi bersama koleksi miniatur pesawatnya.