Ananta dan Lomba TujuhBelasan

Di sebuah komplek tinggal seorang anak yang lincah, Ananta namanya. Di komplek itu juga tinggal 2 orang teman Ananta yang seumuran yakni Arwin dan Adnan. Ananta memiliki postur yang lebih kecil diantara teman-temannya. Mereka berempat selalu bersama dan bermain di dalam komplek, kadang bermain bola atau naik sepeda.

Hari itu, tanggal 17 agustus, adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia. Kebetulan hari kemerdekaan itu dirayakan di hari minggu. Ananta dan teman-temannya  bersemangat karena diadakan banyak lomba tujuhbelasan. Mereka pun berangkat menuju lapangan tempat lomba diadakan.

Panitia lomba tujuhbelasan mengumumkan akan mengadakan empat lomba tujuhbelasan. Ada Lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba memasukkan paku ke dalam botol, dan yang terakhir lomba panjat pinang. Tiga lomba pertama diikuti oleh peserta perseorangan, sedangkan lomba panjat pinang harus diikuti oleh tim.

Ananta dan teman-temannya pun mendaftarkan diri pada lomba tujuhbelasan. Untuk lomba panjat pinang mereka mendaftar sebagai satu kelompok. Perlombaan pertama adalah balap karung. Ananta pun masuk ke dalam karung. Lomba dimulai, Ananta melompat dengan sigap dan berlari. Penonton yang melihatnya tertawa karena Ananta seperti tertelan karung. Walaupun mencapai finish, namun Ananta kalah.

Pada lomba kedua, Ananta berkompetisi bersama Arwin. Kerupuk yang tergantung sudah tak sabar menunggu. Ananta bergerak cepat, namun kerupuk yang tergantung sepertinya tinggi sekali. Arwin yang lebih tinggi bisa dengan mudah melahap kerupuk. Ananta kalah lagi.

Lomba ketiga adalah memasukkan paku ke dalam botol. Ananta sudah patah arang. Adnan, temannya, yang juara tahun lalu dan ikut lagi memberi cara kepada Ananta agar bisa memasukkan paku. Ananta kali ini yakin dapat memenangkan lomba. Dia berusaha dengan keras dan paku hampir masuk..tapi Adnan, sang juara bertahan, lebih cepat. Lagi-lagi Ananta kalah.

Oleh Arwin dan Adnan, Ananta disemangati, “Semangat ta, masih ada lomba panjat pinang”. Ananta tampak lesu dan tidak bergairah. Akhirnya lomba yang paling ditunggu-tunggu tiba yakni lomba panjat pinang. Kalau lomba-lomba sebelumnya hanya berhadiah buku tulis, peralatan tulis, dan tas sekolah, di lomba panjat pinang hadiahnya sepeda buat masing-masing peserta tim.

Semua tim telah mencoba meraih bendera merah putih yang ada di pucuk pohon pinang namun tidak ada yang berhasil . Tibalah giliran tim Ananta. Arwin yang lebih tinggi dan besar berdiri terlebih dahulu, disusul Adnan naik diatasnya. Tapi kemana gerangan Ananta? Teman-temannya pun kebingungan. Arwin dan Adnan pun turun mencarinya.

Ternyata Ananta tertunduk lesu di pinggir lapangan. Dia merasa tidak berguna. “Nta, kemana aja kita cariin, Ayo dong kalau kamu gak ada gimana kita bisa menang?” Adnan menyemangati. “Ayo kamu pasti bisa nta!” Arwin ikut menyemengati. Akhirnya Ananta pun bersemangat kembali. Penonton mulai bersorak sorai ketika tim Ananta beraksi kembali.

Dimulai dari Arwin kemudian disusul Adnan. Tiba giliran Ananta untuk naik. Teriakan dan tepuk tangan menyemangati Ananta. Ananta yang kecil dan lincah menaiki pundak Arwin dan mencapai pundak Adnan dengan mudah. Bendera merah putih dapat diraih Ananta, timnya menang. Ananta berterimakasih kepada Arwin dan Adnan karena walaupun dia kecil namun dapat berguna di saat yang tepat. Hadiah sepeda pun diraih oleh Ananta dan teman-teman.