Keris: Sebuah Warisan Budaya diakui Dunia

Sejatinya, keris sebagai warisan budaya tentu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Namun, perlahan kebanggaan itu menjadi samar sampai akhirnya mencuat kembali setelah diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai salah satu warisan budaya dunia asli Indonesia. Kini, keris menjadi identitas bangsa yang sepatutnya dicintai bangsanya sendiri, Indonesia.

Keris merupakan senjata tradisional khas Indonesia. Senjata ini telah ada sejak abad ke-9 dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Bentuk keris awalnya hanya berbentuk bulat biasa. Seiring perkembangan, keris mengalami metamorfosa menjadi berbilah lurus panjang dan berbilah kelok (selalu berbilang ganjil). Mendengar kata keris mungkin pikiran Anda langsung tertuju pada kisah pembuat keris Mpu Gandring dalam kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Itulah sebabnya keris dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

Adalah Haryono Haryoguritno, seorang pencinta seni dan budaya, yang memperjuangkan keris sebagai warisan dunia. Lebih dari separuh usianya didedikasikan dengan melakukan penelitian terhadap warisan ini. “Keris merupakan ekspresi seni yang penuh falsafah, simbol, dan nilai,” ujarnya. Hingga akhirnya pada 2005, UNESCO mengakui keris sebagai warisan dunia atau tepatnya “A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity”. Indonesia adalah satu dari tiga negara selain Jepang dan India yang memiliki dua mata budaya yang diakui UNESCO.

Ketertarikan Haryono Haryoguritno pada keris dimulai dari lingkungan keluarganya. Ayahnya adalah pencinta wayang dan keris, sedangkan ibunya adalah sastrawan. Suasana kehidupan budaya Jawa sangat dirasakannya sejak kanak-kanakl hingga ia dewasa. Ketika menekuni jenjang pendidikan di jurusan teknik ITB, ia berkenalan dengan profesor asal Jerman bernama Tromborough yang menyatakan kekagumannya akan detail keris yang sangat modern di zamannya. Terakhir, yang sangat mempengaruhi Haryono Haryoguritno menekuni kecintaannya pada keris adalah ketika menjadi ajudan Bung Karno setelah tidak menjabat sebagai presiden. “Beliau berkata, tulislah buku, lanjutkan penelitian. Itu sangat berkesan,” katanya.

Haryono Haryoguritno mengaku ingin menumbuhkan kecintaan generasi muda pada warisan budaya sendiri. Perlu dipahami bahwa keris sebagai benda budaya tidak sepenuhnya memiliki hal-hal yang berbau mistis. “Berawal dari ilmu paduwungan, yang pada awalnya bertujuan untuk memperkokoh kedudukan sang raja sehingga harus memiliki pusaka yang ampuh agar dianggap sebagai manusia setengah dewa,” ujarnya, bercerita. Oleh sebab itu, keris pun bisa dipelajari dan diterima nalar generasi muda.

Keris sebagai warisan dunia tentu perlu diperkenalkan kepada masyarakat dunia. Sempat timbul kekhawatiran akan terjadinya eksodus besar-besaran keris ke luar negeri. Namun, Haryono melihatnya sebagai sebuah prospek. “Kita harus mengenalkan lebih giat lagi keris, karena kita punya sesuatu yang bisa dibanggakan,” katanya. Memang, banyak keris pusaka kerajaan asal Indonesia yang malah menjadi milik museum-museum di Eropa, namun perpindahan itu terjadi sebelum Indonesia merdeka.

Sebagai pencinta seni budaya Indonesia, Haryono Haryoguritno juga menyimpan berbagai macam karya warisan bangsa Indonesia terutama keris di rumahnya yang asri. Beberapa diantaranya merupakan keris kuno pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Selain itu, banyak penggemar dan kolektor keris yang singgah untuk saling bertukar pikiran mengenai warisan budaya leluhur ini. Walaupun sudah berusia senja, Haryono Haryoguritno masih tetap bersemangat memberikan ceramah seperti di perguruan tinggi, lembaga sosial, dan juga masyarakat pencinta keris. Sesekali ia memenuhi undangan berceramah di forum internasional.

Jika Anda tertarik mengetahui seluk beluk keris, tak perlu khawatir karena Haryono Haryogurinto telah menulis karyanya berupa buku setebal 458 halaman dengan judul Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar. Buku ini menurutnya bisa dijadikan sebagai pedoman para pencinta keris maupun sebagai bahan referensi untuk penelitian. Atas usahanya memperjuangkan keris sebagai warisan budaya yang diakui oleh UNESCO, MURI (Museum Rekor Indonesia) memberikan apresiasi berupa penghargaan pada Desember 2007. Penghargaan terhadap perannya sebagai perintis pengakuan keris Indonesia sebagai karya agung warisan dunia.

Masih ada cita-cita Haryono Haryoguritno yang ingin diwujudkannya yakni memerjuangkan keris dalam dimensi ilmu. Krisologi namanya. Dalam ilmu ini tercakup berbagai mata studi seperti arkeologi, antropologi, sastra, juga sosiologi. “Jika Krisologi menjadi mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa, maka akan sangat berguna dalam pelestarian keris,” kata dia.

Selain itu, Krisologi juga dapat memberikan pandangan yang jelas terhadap keris agar tidak terjadi kesimpangsiuran. Di akhir pertemuan, Haryono Haryoguritno berpesan agar Keris sebagai identitas asli bangsa Indonesia harus terus dilestarikan dan dipelajari oleh generasi penerus.