Surabaya: Menyusuri Jejak-jejak Pahlawan

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kota Surabaya? Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo, sampai bambu runcing pasti muncul dalam ingatan Anda. Surabaya, atau yang akrab disapa dengan Kota Pahlawan, memang memberikan suatu memori perjuangan. Berbagai kisah tersaji tentang bagaimana rakyat Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Kini, Surabaya berkembang menjadi kota metropolitan yang tak kalah dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Gedung-gedung perkantoran dan mal seolah berlomba berdiri menunjukkan kemajuan ekonomi yang signifikan. Lalu, masih adakah jejak-jejak pahlawan yang tersisa di Surabaya?

Wisata sejarah dapat Anda mulai dari Tugu Pahlawan. Tugu yang dibangun untuk memperingati pertempuran 10 November 1945 ini memang menjadi ikon Kota Surabaya. Memiliki tinggi 45 meter dan sisi sebanyak 10 bidang, lokasi monumen ini mudah dijangkau karena terletak di tengah kota dan berseberangan dengan kantor gubernur Jawa Timur. Tugu yang menjadi satu dengan Taman Kebunrojo ini diresmikan pada 10 November 1962 dan selalu menjadi pusat peringatan Hari Pahlawan.

Tak jauh dari Tugu Pahlawan, Anda patut mampir sejenak di Hotel Majapahit Mandarin Oriental. Hotel ini dulunya bernama Hotel Orange atau Hoteru Yamato yang terkenal dengan peristiwa penurunan bendera Belanda. Alkisah, setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara berdaulat, sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Belanda pada tiang bendera yang terdapat di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Menganggap hal itu sebagai tindakan provokatif, Resimen Soedirman memerintahkan sekutu menurunkan bendera, namun ditolak. Kemudian, terjadilah peristiwa penurunan bendera belanda oleh empat pemuda, yang kemudian bagian berwarna birunya dirobek dan dikibarkan kembali pertanda kedaulatan Indonesia tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Kawasan lain yang juga sarat dengan sejarah peninggalan masa penjajahan hingga masa mempertahankan kemerdekaan adalah kawasan jalan Pemuda.

Ada dua tempat historis yang tidak boleh terlewatkan. Yang pertama adalah Balai Pemuda yang pada masa kemerdekaan menjadi markas Pemuda Republik Indonesia. Saat ini bentuk gedungnya masih bertahan dan masih digunakan sebagai pusat kegiatan seni, pameran, pagelaran musik, dan resepsi pernikahan. Tempat kedua adalah Monumen Kapal Selam (Monkasel) yang terletak persis bersebelahan dengan Plaza Surabaya. Monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410 yang pernah digunakan dalam pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat. Kapal Selam yang dibuat tahun 1952 ini kemudian dialihfungsikan sebagai objek wisata sekaligus memperingati keberanian pahlawan laut Indonesia. Seorang pemandu wisata akan menemani Anda melihat bagian-bagian dalam kapal selam ini.

Bicara mengenai laut, kota Surabaya juga menjadi basis terbesar Angkatan Laut Indonesia. Di kota ini terdapat Akademi Angkatan Laut (AAL) tempat pendidikan para calon perwira Angkatan Laut. Yang fenomenal tentu keberadaan Monumen Jalesveva Jayamahe berbentuk patung perwira Angkatan Laut lengkap dengan pedang kehormatan, berdiri tegak menghadap ke laut. Monumen ini memiliki tinggi 85 meter dan tinggi patung hampir 31 meter, tertinggi kedua setelah Patung Liberty di New York. “Jalesveva Jayamahe” merupakan semboyan dari TNI AL yang berarti “Di Lautan Kita Jaya”. Patung karya Nyoman Nuarta ini menjadi cerminan kebesaran sejarah Indonesia sebagai bangsa bahari. Selain sebagai museum, monumen ini juga berfungsi sebagai menara suar bagi kapal yang melintas di dermaga Ujung Surabaya. Sejarah nama kota Surabaya berasal dari dua kata, yakni “Sura” yang berarti ikan hiu dan “Baya” yang bermakna buaya. Konon, dahulu ada mitos pertempuran antara ikan Sura dan Baya yang menimbulkan dugaan munculnya nama Surabaya ini. Tak mengherankan jika kemudian jika Hiu dan Buaya menjadi simbol kota ini. Namun berdasarkan sejarawan, Surabaya berasal dari kata “Sura ing Bhaya” yang berarti “Keberanian menghadapi Bahaya” yang diambil dari sejarah takluknya pasukan Mongol oleh pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya pada 31 Mei 1923. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari jadi kota Surabaya. Melihat obyek-obyek wisata sejarah di Kota Pahlawan ini tentu merupakan potensi besar yang harus dimanfaatkan dan dinikmati. Perkembangan ekonomi yang pesat tentu diikuti dengan perbaikan dan penambahan jaringan infrastruktur yang memadai. Surabaya akan terus berkembang mengikuti pertumbuhan zaman, tapi jangan sampai menghilangkan jejak-jejak dan nilai-nilai yang dikumandangkan para pahlawan.