Era Soekamto

Industri Fesyen juga punya Masa Depan

Nama Era Soekamto kini menjadi buah bibir dunia fesyen Indonesia. Perhatian wanita kelahiran 3 Mei ini pada budaya Indonesia yang dituangkan ke dalam rancangan yang modern patut dihargai. Mengaku bercita-cita menjadi desainer sejak kelas 5 SD, kini alumnus Lasalle International Fashion College Singapore ini memiliki tiga label masing-masing UrbanCrew, X Label, dan brand dengan namanya sendiri Era Soekamto. Berikut wawancara Sriwijaya dengan Era Soekamto yang bicara banyak dunia fesyen dan kombinasinya dengan warisan budaya Indonesia:

1. Siapa inspirasi terbesar Anda ketika memutuskan untuk menjadi seoarang perancang?

Inspirasi terbesar tentu ibu saya. Beliau yang memberikan contoh bahwa perempuan wajib untuk berpenampilan baik, menghargai kain dan busana daerah. Selain itu beliau yang mengajarkan saya untuk kuat dan mandiri. Pilihan profesi yang ini mungkin masih dianggap aneh dan tidak bermasa depan. Hal ini kemudian menjadi ajang pembuktian saya bahwa fesyen dan indsutri kreatif jika dijalankan serius dan konsisten juga dapat berprestasi dan punya masa depan yang cerah.

3. Momentum kepuasan apa yang didapat dengan menjadi perancang?

Saat yang paling memuaskan adalah dimana klien merasa sangat puas akan hasil karya saya, review media yang positif, dan apabila tim saya bisa menerjemahkan desain saya dengan kesempurnaan mutu dan kualitas tanpa komplain sedikitpun.

2. Bagaimana Anda mendefinisikan rancangan-rancangan Anda?

Saya adalah style maker yang dapat meramu konsep, brand architecture, beserta lifestylenya. Brand Era Soekamto, X label, dan Urban Crew punya karakter yang sangat berbeda. First line-Era Soekamto memiliki desain yang sangat stabil, mewah,  dan anggun, second line-X label khusus untuk fractal batik kontemporer dengan gaya kosmopolitan dan chic, dan third line-Urban Crew yang rebellious dan nyeleneh. Semua brand memiliki karakter yang bertolak belakang tapi memiliki benang merah yakni garis yang tegas, edgy, dan maskulin tapi tetap feminin.

7. Ada perbedaan pada masing-masing label ini?

Perbedaannya jelas di target market yang dibidik, desain dan material, harga, warna, dan kualitas, juga cara mendistribusikannya. First line saya (Era soekamto) lebih ke baju made to measure artinya sangat pribadi dan eksklusif. Era Soekamto ready to wear deluxe dan X label dapat diakses di butik Style di Plaza Indonesia lantai 2 yang akan dibuka pada bulan Agustus ini, dan Urban Crew dengan konsep retail dan wholesaling.

4. Bagaimana Anda melihat potensi kain-kain Indonesia sebagai salah satu kekayaan budaya?

Saya melihatnya sebagai warisan yang wajib dilestarikan dan dikembangkan. Karena kain-kain ini memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi identitas bangsa. Untuk hal ini diperlukan kesadaran yang luar biasa akan apresiasi terhadap kekayaan yang kita miliki dan menjadikannya kekuatan karakter bangsa agar Indonesia mempunyai harga diri di mata dunia.

6. Kesibukan Anda saat ini?

Saya sedang mempersiapkan brand Urban Crew pada HongKong Fashion Week (5-10 Juli 2009). Sempat vakum dari distribusi lokal sejak 2 tahun terakhir, brand ini saya konsentrasikan untuk pasar internasional terlebih dahulu, sambil mempersiapkan infrastruktur dan segala sesuatunya.

8. Bagaimana Anda melihat Era Soekamto saat ini?

Tidak bisa diam, terus belajar dan mengajar, sangat aktif memperjuangkan apresiasi terhadap budaya dan sources Indonesia, industri fashion dan industri kreatif pada umumnya,  multifungsi, dan spiritual.

9. Gairah fesyen masyarakat tidak menurun walaupun dilanda krisis global, namun mereka lebih memilih brand luar, bagaimana Anda melihatnya?

Sandang adalah kebutuhan dasar manusia, hanya sekarang bukan hanya dipakai sebagai fungsi saja namun untuk emotional benefit yang membuat manusia menjadi lebih percaya diri, meningkatkan strata sosial, serta outcome perkerjaan yang berbeda lebih terasa.

Hal ini tentu menjadi tantangan brand lokal untuk menciptakan produk dengan kualitas yang lebih baik, kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia, peluang membuat harga yang lebih terjangkau, dan persaingan brand yang jauh lebih fleksibel karena semua keputusan masih tahap lokal dan dapat lebih lentur atau fleksibel.

10. Saran bagi yang ingin menjadi perancang dan bagi perancang yang ingin menjadi entrepreneur?

Cintai profesi apapun yang kita pilih, karena karya yang kita buat dengan passion akan lebih mampu menyukseskan kita dari pada sekedar asal buat. Penggabungan antara kreatifitas dan entrepreneurship terlihat sangat mudah tetapi sulit dijalankan. Hal ini membutuhkan keseimbangan berpikir, leadership, dan kemampuan manajerial yang tajam supaya apapun karya kita dapat terlaksana dengan prima. Satu lagi, Jangan pernah berhenti belajar!

11.  Apa hal utama yang menjadi pertimbangan Anda memilih maskapai penerbangan?

Kesibukan saya sebagai perancang tentu tak lepas dari jasa transportasi udara. Rasa aman dan nyaman menjadi pertimbangan saya memilih maskapai udara. Sriwijaya Air dengan citra yang semakin membaik tentu juga bisa menjadi pilihan saya dan perancang-perancang lain di Indonesia, jika pengaturan bagasi dan OTP (On Time Performance)-nya baik.