Pak Rudi “Bos” dalam kenangan….

Bos Rudi

Jumat pagi itu, 10 April 2009, saya terkejut mendengar berita meninggalnya Rudi, crewdriver Solo. Berita yang saya dapat dari situs jejaring facebook membuat saya tak percaya. Namun setelah menghubungi Caesar, SPV bandara Adi Soemarmo, berita itu memang benar adanya. Rudi telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sosok yang ramah ini mengalami kecelakaan motor ketika sedang menuju bandara Adi Soemarmo, Solo.

Banyak cerita dan kenangan tentang pria bernama lengkap Rudi Sutrisno ini, ia adalah orang yang menyenangkan dan suka bercanda. Apa yang saya rasakan ini juga diamini oleh seluruh kru baik kokpit maupun kabin Sriwijaya Air. Apalagi di Solo terdapat mes yang digunakan untuk menginap para kru, sehingga tidak ada yang tak mengenal Rudi. “Orangnya nice dan tidak “ngoyo”. Apapun yang kami minta, selalu berusaha dipenuhinya,” ujar capt. Insan, bercerita.

Menurut saya, pria kelahiran Solo, 17 November 1973 ini, memang sosok yang mudah bergaul dengan siapa saja. Bahkan sapaan “bos” seolah menjadi trademark yang akhirnya menjadi nama panggilannya; “Pak Bos”. Saya sempat berbincang banyak mengenai suka dukanya menjalani profesi crewdriver saat melakukan peliputan di Solo dan Yogyakarta. “Ya, pembawaan saya memang begini bos. Saya tahu, para kru itu pasti capek menjalani rute penerbangan. Makanya dengan saya hibur mereka bisa sejenak melupakan penat,” selorohnya.

Kuliner Solo yang lezat menjadi daya tarik tersendiri bagi para kru. Banyak dari mereka yang meminta Rudi untuk membelikan makanan khas Solo. Saya sempat menemani beliau mencari pesanan para kru, mulai dari nasi liwet, bebek slamet, gudeg ceker, hingga serabi notosuman yang terkenal itu. Wah, saya tidak dapat membayangkan jika berada di posisinya membeli makanan dari satu tempat ke tempat lain yang cukup berjauhan. “Padahal, sehari sebelumnya, masih ribut masalah gudeg ceker sama Martha sambil ketawa ketiwi. We love you Pak Bos,” kata Chandra Wijaya, salah seorang pramugara, mengenang.

Mendengar penuturan Rudi, saya jadi teringat perbincangan saya dengan Presiden Direktur Sriwijaya Air. “Sriwijaya Air tidak ada apa-apanya tanpa peran serta seluruh karyawan Sriwijaya Air tanpa terkecuali,” kata Chandra Lie. Ucapan ini agaknya cocok benar menggambarkan sosok seorang Rudi. Meskipun hanya menyandang status driver, ia bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berkomitmen menjalankan tugasnya tanpa mengeluh sedikit pun. “Saya pernah sehari hanya tidur 3 jam bos, tapi ya itu memang tugas saya,” ujar Rudi lagi.

Selamat jalan Pak Bos. Begitu banyak kru yang merasa kehilangan dirimu. Terlalu banyak kenangan indah yang tak bisa terlupakan, begitu pun dengan canda tawamu. Kami semua berdoa semoga Pak Rudi mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Edisi Mei 2009