Mencari Jatidiri Martabak Bangka

martabak

Dan sore itu, aku ditelpon suamiku.
“Mau hok lo pan ndak?”.
“Hok lo pan apa?”
“itu yang di novel maryamah karpov”
“Boleh-boleh, tapi dikit aja ya, siapa tau ndak suka,”
Ku pikir makanan yang ditawarkan sejenis kue-kue warga Tionghoa, ya mungkin karena bentar lagi imlek, makanan-makanan itu tersedia. Setelah telpon putus baru aku ingat, jangan-jangan… langsung deh ku telpon lagi suamiku. “Bang coba tanya dulu yang menjualnya, halal ndak tuh?”
Suamiku malah ketawa-tawa.
“Ya halal lah,” masih sembari ketawa.
Pas nyampe rumah.
“Mana kuenya. Kok martabak, ngerjain ya.” Suamiku kembali ketawa-tawa.
“Ya itu hok lo pannya,” dia kembali tertawa…
Ternyata saudara-saudara…..

Bagi Anda, penggemar novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tentu mengenal sepenggal percakapan tadi. Awalnya, saya sempat menyangsikan bahwa martabak berasal dari Bangka. “Kayaknya dari pedagang martabak di Jalan Bangka, Jakarta, yang sukses dan membuka cabang-cabangnya hingga ke luar Jakarta,” begitulah isi pikiran saya. Saya hanya meyakini kalau martabak dengan label “Bangka” memang lebih enak dibanding martabak yang hanya mencantumkan “manis” atau “terang bulan”.

Ternyata, setelah membaca novel tersebut, saya mendapatkan fakta bahwa martabak Bangka memang berasal dari Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Di daerah itu, memang tidak ada nama Martabak Bangka, seperti juga Warung Tegal yang tidak terpampang di Tegal. Martabak di Bangka lebih dikenal dengan nama kue Pangkal Pinang atau kue Pinang Bangka atau Hok Lo Pan itu tadi.

Suatu kali, dalam perjalanan liputan ke Bangka, saya jadi ingin tahu bagaimana rasanya martabak Bangka yang asli. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya saya mencoba martabak di sebuah warung di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Pangkal Pinang. Pilihannya hampir sama dengan martabak Bangka yang ada di Jakarta, adonannya pun sama terbuat dari tepung terigu, soda kue, telur ayam, santan, air, dan ragi. Saya memesan martabak cokelat keju. Setelah saya cicipi, ternyata memang enak, gurih, dan teksturnya lembut. Meskipun para pedagang menawarkan variasi pilihan rasa martabak, martabak dengan rasa konvensional (cokelat, keju, cokelat-keju) menjadi pilihan favorit para pembeli.

Menurut salah satu sumber, awalnya martabak Bangka tidak beda dengan Martabak Manis hanya kulitnya lebih tebal dengan proses memasak yang dipanggang. Panganan ini pertama kali berkembang di kalangan kaum keturunan Tionghoa. Bila awalnya martabak ini hanya berisi remah-remah kacang tanah, kini variannya semakin banyak sesuai perkembangan zaman dan permintaan konsumennya.

Lalu bagaimana dengan martabak Bangka yang ada di Jakarta? Apakah para penjualnya berasal dari Bangka? Atau memang resepnya saja yang sama? Menjawab rasa penasaran tadi, saya memutuskan mencari Martabak Bangka di Jalan Bangka, Jakarta. Namun tak satu pun pedagang yang tahu bagaimana sejarah keberadaan Martabak Bangka di Jakarta.

Melalui rekomendasi seorang teman, akhirnya saya mengetahui salah satu penjual martabak Bangka yang asli, memang berasal dari Bangka yang merintis usahanya di Jakarta. Bisnis ini dirintis sejak november 2007 oleh Suhanto atau lebih sering dikenal dengan nama Alim. Nama Alim kemudian menjadi merek dagang dari martabak Bangka ini. Saat ini, bisnis martabak Alim berkembang pesat dengan berbagai cabang dan juga franchise di seluruh Jakarta.

Yang membedakan Martabak Alim dengan Martabak Bangka lainnya adalah terobosan yang dilakukan dengan menawarkan rasa dan ukuran yang variatif. Untuk jenis martabak manis, konsumen dapat memilih ukuran yang ditawarkan selain ukuran biasa yakni ukuran “unyil” dan ukuran mini. Berbagai rasa pun ditawarkan antara lain durian, srikaya, blueberry, yang benar-benar menggoda selera. Sedangkan untuk martabak telor, Alim menawarkan berbagai variasi isi selain daging seperti kornet, jagung, tuna, hingga spaghetti.

Martabak Bangka memang menjadi makanan ringan favorit siapa saja. Keberadaannya pun mudah ditemukan di segala penjuru kota. Dengan berbagai variasi rasa, martabak yang memang berasal dari Pulau Bangka ini menjadi pilihan favorit masyarakat Jakarta, termasuk saya.