Ferina

My Spirit Mother

erie copy

Tak seorang pun di dunia ini yang tidak ingin membahagiakan kedua orangtua, terutama Ibu yang telah melahirkan kita. Pun yang terjadi dengan Ferrina, pramugari Sriwijaya Air. “Aku bisa menjadi seperti ini berkat dukungan ibu. She is the spirit of my life,” ujar gadis kelahiran Bandung, 20 Februari 1988 ini. Keputusannya menjadi pramugari pun tak lepas dari dukungan sang ibu.

“Sebenarnya ketika lulus SMA, saya bimbang memutuskan menjadi pramugari atau melanjutkan kuliah,” kata Erie, panggilan akrabnya. Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan keluarga, Erie mantap untuk menjadi seorang pramugari. Keputusan yang tidak hanya untuk membahagiakan dirinya namun juga kedua orangtuanya.

Banyak pengalaman seru dan mengasyikkan bagi Erie dalam menjalani profesinya sebagai awak kabin. “Bisa menambah banyak teman, berinteraksi dengan berbagai karakter penumpang, dan juga bisa jalan-jalan gratis tentunya,” ucapnya, sembari tersenyum. Apalagi, tambahnya, suasana di Sriwijaya Air penuh kekeluargaan hingga sejenak bisa melupakan lelah dan penatnya menjalani rutinitas pekerjaan. Dua tahun bersama Sriwijaya Air pun tak terasa hampir dilalui.

Sebagai seorang flight attendant, Erie yang sebelumnya sempat menjadi pramugari haji ini memiliki harapan untuk menjadi Cabin Senior. Keinginan ini juga menjadi salah satu harapan almarhumah ibunya. “Perjalanan saya menjadi pramugari diiringi dengan sakitnya ibu saya. Alhamdulillah ketika beliau meninggal, saya bangga dan bahagia bisa menjadi pramugari,” ujarnya mengenang. Erie memiliki prinsip, jangan pernah menunda untuk membahagiakan orangtua, karena suatu saat nanti pasti akan terasa maknanya.