Bring Your Own Bag

For A Better Earth, Better Future

Ingatkah Anda ketika masih kecil, ibu atau nenek membawa tas belanja sendiri ketika pergi ke pasar. Tas jinjing berukuran besar yang terbuat dari bekas karung beras atau dari anyaman daun ini bisa memuat sayur-sayuran, ikan, dan buah-buahan. Tahukah Anda, secara tidak langsung kebiasaan mereka ini merupakan salah satu aksi sadar lingkungan.

Namun, mulai pertengahan 90-an hingga sekarang penggunaan kantong plastik semakin merajalela. Perubahan budaya penggunaan kantong plastik ini sendiri mulai dirasakan dengan tergusurnya pasar-pasar tradisional dan kehadiran pusat perbelanjaan modern. Menurut National Academy of Science, rata-rata setiap orang menghabiskan 700 kantong plastik per tahun, dan untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, sebanyak 12 juta barel minyak bumi dan 14 juta pohon telah dikorbankan.

Masih belum percaya akan bahaya plastik? Coba simak data berikut ini, tanaman tidak akan tumbuh pada tanah yang terkontaminasi sampah plastik. Asap hasil pembakaran sampah plastik mengeluarkan DEHA (di(2-ethylhexyl)adipate) yang bersifat racun dan dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen manusia, mengakibatkan kromosom rusak, dan bayi-bayi lahir dalam kondisi cacat.

Salah satu bahan plastik, plasticizers, dapat menimbulkan kematian jaringan dan kanker. Dunia kini menyadari bahwa penggunaan plastik sangatlah berbahaya. Sebanyak 80% plastik dari total 6,4 juta ton sampah dunia masuk ke dalam laut setiap tahunnya tanpa melalui proses daur ulang. Sementara waktu yang dibutuhkan sampah plastik tersebut untuk hancur dan terurai adalah sekitar 400 tahun.

Kaum wanita notabene menjadi pengonsumsi plastik terbesar karena merekalah yang sering pergi berbelanja. Kampanye Bring Your Own Bag (Bawalah tas belanja Anda sendiri) pun menggema. Kebiasaan membawa tas belanja sendiri coba digalakkan kembali untuk menyelamatkan Bumi agar dapat bertahan lebih lama.

Pada tanggal 22 April yang juga diperingati sebagai hari bumi, banyak organisasi dan lembaga dunia berpartisipasi pada kampanye Bring Your Own Bag ini. Seperti yang dilakukan oleh National Geographic di Taiwan. Mereka mengundang artis-artis kenamaan seperti Coco Lee untuk menjadi juru bicara menjadikan bumi lebih baik dengan membawa tas belanja sendiri. “”Ini saatnya untuk memikirkan kembali cara kita menjalani hidup,” ungkap Lee yang juga merilis video musik berjudul BYOB (Bring Your Own Bag). Video ini bertujuan meminta masyarakat dunia untuk mulai menyelamatkan bumi ini dengan berhenti menggunakan tas plastik.

Lembaga lainnya yang mengampanyekan program ini diantaranya adalah Greenpeace, WWF, USAID, dan juga WALHI. Memang, tidaklah mudah mengubah budaya penggunaan kantong plastik secara frontal. Salah satu upayanya adalah dengan mengeluarkan tas belanja yang modis. Sebuah perusahaan di kanada berani meluncurkan website bringyourownbag.ca yang menjual berbagai macam tas belanja terbuat dari 100% katun organik. Desain gambar yang atraktif menjadi daya tarik sekaligus mengampanyekan penggunaan tas belanja itu sendiri.

Para perancang mode Indonesia yang tergabung dalam Fashion First pun tidak ketinggalan ambil bagian dengan menjual canvas bag dengan desain inovatif bertemakan lingkungan. Hasil penjualan canvas bag ini nantinya akan didonasikan kepada WWF. Beberapa pusat perbelanjaan besar kini juga mulai menyadari akan bahaya penggunaan kantong plastik. Mereka menjual tas belanja kepada para konsumennya, dan apabila digunakan pada kunjungan berikutnya akan mendapatkan potongan harga.

Singapura, negara tetangga kita, bahkan lebih ekstrim dengan mengenakan biaya penggunaan kantong plastik jika berbelanja tidak membawa tas sendiri. Hasil penjualan ini akan digunakan pada kegiatan peduli lingkungan. Bahaya kantong plastik memang sudah di depan mata Anda.

Keputusan untuk bumi yang lebih baik untuk generasi penerus menjadi pilihan yang tidak boleh ditunda lagi. Jadi, mulailah mengurangi penggunaan kantong plastik seminimal mungkin dan gunakan tas sendiri ketika akan berbelanja. Maka peran serta Anda akan turut menentukan kehidupan yang akan datang.