Lula Kamal

Wanita Multiprofesi

Lula Kamal

Siapa yang tak kenal Lula Kamal? Presenter cantik yang juga seorang dokter ini belakangan semakin sering tampil di layar kaca. Salah satu talk show yang dibawakannya di sebuah stasiun teve nasional pun banyak menyedot perhatian pemirsa. Pada acara bertajuk “Empat Lawan Satu” ini, Lula didamping tiga public figure wanita lain beradu kata dan argumentasi dengan narasumber para politikus yang tengah jadi sorotan publik. Kepiawaiannya dalam berdiskusi pun kian teruji.

Berbagai kegiatan yang ada membuat wanita cantik blasteran Arab, Sunda, dan Betawi ini harus sering terbang ke luar kota, dan maskapai yang paling sering digunakannya adalah Sriwijaya Air. Salah satunya, karena maskapai ini dinilai punya jadwal terbang yang cukup banyak, sehingga lebih mudah untuk menentukan pilihan. Bagaimana ibu muda ini mensinergikan berbagai macam profesi yang disandangnya? Berikut petikan wawancaranya:

Mengapa memilih profesi dokter, apakah ada latar belakang keluarga?

Awalnya sih saya tidak tertarik menjadi dokter. Ketika SMA, justru berminat pada bidang fisika, apalagi ketika itu saya masuk kelas A1 (jurusan fisika). Setelah lulus, saya mencoba ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri, ternyata tidak diterima. Barulah saat itu keluarga memberikan dorongan untuk masuk kedokteran, terutama ibu. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil Jurusan Kedokteran di Universitas Trisakti.

Apa saja kesibukan Anda setelah berprofesi sebagai dokter?

Saya bersama teman seprofesi membuka klinik bersama yang khusus menangani rehabilitasi narkoba dan adiksi. Ini sesuai dengan pendidikan terakhir saya saat kuliah di Kings College London, yaitu bidang rehabilitasi narkoba dan adiksi. Di klinik tersebut kami memakai sistem perjanjian jadwal terlebih dahulu, jadi tidak ada yang namanya antre bagi para pasien. Selain itu, kami juga banyak terlibat untuk melakukan berbagai penyuluhan seperti antinarkoba, gerakan jantung sehat, pembasmian nyamuk demam berdarah, sampai soal firus flu burung. Saya juga banyak diundang untuk menjadi pembicara pada berbagai penyuluhan kesehatan.

Seberapa besar profesi dokter ini mendukung kegiatan Anda sebagai presenter?

Oh, tentu sangat mendukung. Karena dengan basic saya sebagai dokter inilah, sejumlah production house dan televisi memberikan tawaran untuk menjadi presenter talkshow, terutama untuk bidang kesehatan. Tentu harapannya, jika pembawa acaranya seorang dokter pasti lebih memahami apa yang disampaikan oleh narasumber dan menyampaikannya kembali kepada pemirsa. Tapi sekarang, saya juga mulai dipercaya untuk menjadi presenter dibidang yang jauh dari profesi saya, misalnya acara politik, sehingga saya dituntut untuk terus belajar dan menggali berbagai materi.

Apakah mendalami pendidikan presenter juga sebelumnya?

Zaman dulu tidak ada sekolah presenter seperti sekarang. Sehingga ilmu yang saya dapat ini adalah learning by doing dan belajar dari kesalahan. Beruntung, pada dasarnya saya memang suka ngobrol, bahkan sangat senangi berbicara di depan umum sejak dulu di sekolah. Tetapi sebenarnya obsesi menjadi presenter baru muncul lagi setelah menyelesaikan pendidikan dokter. Mulai dari presenter infotainment, lalu jadi penyiar radio, dan menjadi cameo (memerankan diri sendiri) pada film Berbagi Suami.

Bagaimana Anda melihat pencapaian hingga saat ini?

Saya berterimakasih dan sangat bersyukur kepada Allah SWT karena bisa menjalani multiprofesi ini. Buat saya, pekerjaan bukan menjadi beban malah bisa menghilangkan stres kehidupan sehari-hari.

Seberapa seringkah menggunakan maskapai Sriwijaya Air?

Saya termasuk sering menggunakan Sriwijaya Air untuk tujuan Lampung, karena memang orangtua dan usaha suami ada di sana. Karenanya saya membutuhkan penerbangan yang fleksibel, misalnya pergi pada pagi hari. Kebetulan hanya Sriwijaya Air yang punya jadwal terbang pada waktu-waktu tersebut. Jadi sangat cocok dengan kebutuhan.

Selain itu, OTP (On Time Performance)-nya juga bagus, kalaupun delay tidak terlalu lama. Buat saya lebih baik di-delay demi keselamatan penumpang. Saya pernah mengalaminya ketika pulang dari Belitung menggunakan Sriwijaya Air. Saya bilang dalam hati, “tenang capt, kita tidak buru-buru kok yang penting mesin layak terbang”, he he he.

Kesan apa yang Anda dapat selama ini menggunakan Sriwijaya Air?

Yang paling saya ingat kalau bepergian dengan anak saya. Dia paling senang melihat buletin Sky Shop. Bahkan sebelum pesawat take off, dia buru-buru pesan ke pramugari mainan apa saja yang ingin dibeli. Kalau saya lihat memang di Sky Shop pilihan mainan anak-anaknya cukup banyak. Jadi, tidak hanya untuk konsumen dewasa saja.

Hal lain yang juga menarik adalah inflight magazine-nya. Saya sering lihat iklan Parai Bangka di Majalah Sriwijaya Air Inflight Magazine, itu juga yang akhirnya membuat saya penasaran dan memutuskan untuk kesana. Ternyata tempatnya memang bagus dan cocok untuk liburan bersama keluarga.