Capt. Yogie Patria Santika

Jatuh Hati pada Profesi Pilot

capt. Yogie

Jatuh hati pada pandangan pertama. Pepatah ini amat tepat bagi pilot Sriwijaya Air, Yogie Patria Santika. “Waktu masih TK, saya sempat mengintip bagian kokpit pesawat, dan langsung jatuh hati,” ujar suami dari Yulia Rachmadiani ini. Sejak saat itulah, ia membulatkan tekad untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penerbang. Bangku sekolah dan pendidikan pilot dilalui dengan baik. Keinginan menjadi pilot pun akhirnya terwujud.

Setelah malang melintang di dunia penerbangan sipil, Capt. Yogie memutuskan untuk bergabung dengan Sriwijaya Air. “Semangat kedaerahan yang kuat memicu saya untuk bergabung dengan Sriwijaya Air. Kebetulan pimpinan juga berasal dari daerah yang sama, yakni Bangka,” kata pria kelahiran Sungailiat, Bangka, 14 November 1976 ini. Capt. Yogie pun merasakan semangat persaudaraan yang sangat kental di perusahaan ini. Hubungan personal sesama teman seprofesi, antar karyawan dan para pengambil keputusan, sangatlah dekat.

Sebagai putra daerah, ia berharap lebih banyak lagi rekan-rekannya dari daerah yang mau terjun menjadi pilot-pilot handal Indonesia. “Intinya jangan pernah menyerah, karena profesi penerbang bukan hanya dominasi orang-orang yang berkantong tebal,” ujar pria yang menjabat sebagai Chief Standard & Training Sriwijaya Air ini. Asalkan mau berusaha, pasti akan ada jalan. “Percayalah bahwa Allah Maha Melihat atas setiap keringat yang menetes dari usaha kita dalam mewujudkan mimpi,” tambahnya lagi.

Berbicara daerah Bangka, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, capt.Yogie mengaku tidak dapat memilih tempat favoritnya. “Semuanya indah dan menyenangkan. Dulu, waktu kecil, saya sering berenang di sungai atau bermain di pantai Hakok yang kini bernama Parai. Suasananya damai dan pemandangannya sangat indah,” katanya, bercerita. Pria penggemar makanan laut ini juga berharap agar potensi wisata yang ada di Bangka dapat dikembangkan tanpa mengubah keasliannya.

Dengan pengalaman terbangnya selama ini, pria yang hobi mengutak-atik komputer ini juga berharap agar para pilot baru mampu menjadi pemimpin yang bijaksana dan bisa mengayomi seluruh awak pesawat. “Jangan lupa juga untuk selalu berpegang pada aturan dan disiplin,” ujar si sulung dari tiga bersaudara ini.