Silva ingin Sepeda

Silva adalah siswi kelas 3 yang rajin di sekolahnya. Prestasi belajar Silva pun diakui oleh gurunya. Silva memiliki impian untuk memiliki sepeda karena jarak dari rumah menuju sekolahnya cukup jauh. Selama ini ia membonceng dengan Arie sahabatnya. Suatu hari, keinginan terpendam Silva semakin kuat, “silva mau sepeda dari usaha sendiri”, ujarnya dalam hati.

Silva sadar, orang tuanya bukanlah keluarga yang berada. Penghasilan orang tuanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai biaya dirinya dan saudara-saudaranya. Namun, tekad yang kuat membuatnya berinisiatif berjualan roti. Kebetulan tetangga Silva, ibu Ayu, berjualan roti kecil aneka rasa. Silva ingin membantu ibu Ayu menjual roti-rotinya di sekolah. Keuntungan dari penjualan roti akan ditabung untuk membeli sepeda. “Baiklah, ibu akan memberikan satu kotak roti untuk Silva jual”, menyambut dengan baik niat Silva. Satu roti berharga 1000 rupiah akan dijualnya dengan harga 1500 rupiah

Hari itu, lain dari biasanya, Arie membonceng Silva yang membawa satu kotak roti. “Roti-roti itu akan Silva jual?”, tanya Arie. Silva pun mengiyakan sambil berharap Arie membeli rotinya. Arie dan Silva sampai di sekolah satu jam lebih awal. Teman-teman kelasnya pun terheran-heran ketika tahu Silva berjualan roti. Namun, mereka sangat senang, apalagi yang tidak membawa sarapan bisa membeli roti jualan Silva. Ada rasa coklat, keju, srikaya, semua tergantung selera teman-temannya.

Melihat keramaian di kelas, seorang guru yang lewat kemudian masuk ke dalam. Ternyata dia adalah wali kelas Silva, pak Widi namanya. “Ada apa ini, kok ramai sekali?”, tanya pak Widi kepada anak-anak. Mereka pun menjelaskan sedang membeli roti yang dijual oleh Silva. Melihat hal ini, pak Widi hanya tersenyum sembari bertanya, “Siapa yang meminta kamu untuk menjual roti ini?”, Silva pun menjawab, “Silva sendiri bapak, saya ingin menabung untuk membeli sepeda”.

Pak Widi sangat terenyuh mendengar jawaban Silva. Diam-diam, pak Widi menghubungi adiknya yang kebetulan memiliki toko sepeda. Kemudian, teman-teman Silva juga berinisiatif mengumpulkan dana sebagai tambahan untuk diserahkan ke pak Widi. Mendengar cerita perjuangan Silva, adik pak Widi pun terenyuh. Ia pun berinisiatif memberikan salah satu sepeda yang dijualnya kepada pak Widi untuk dberikan kepada Silva.

Hari berlalu, Silva masih semangat menjual roti. Diam-diam pak Widi dan teman-temannya ingin memberikan kejutan. Sepeda dari adik pak Widi sudah disiapkan sedemikian rupa untuk diberikan kepada Silva di hari ulangtahunnya. Kebetulan hari itu adalah hari ulangtahunnya. Sepulang sekolah dia sudah bersiap-siap untuk pulang. Namun ternyata dia dipanggil ke ruangan pak Widi.

“Sepertinya pelajaran Silva tidak ada yang tertinggal”, herannya. Sesampai di ruangan, Silva disambut senyuman pak Widi. Pak Widi pun berkata, “Silva hari ini adalah hari ulang tahun kamu bukan?”, “bapak dan teman-teman kamu sudah menyiapkan kado spesial untuk Silva”, sembari menunjuk ke halaman belakang sekolah.

Silva terkejut, di halaman belakang sekolah sudah ada teman-temannya berkumpul bersama sepeda yang sudah dihiasi pita-pita berwarna-warni. Haru, senang, gembira bercampur menjadi satu. Keinginannya memiliki sepeda menjadi kenyataan. Hari itu adalah hari ulang tahun paling bahagia buat Silva.