Sandra Syam

Sandra SyamAnalogi “Pesawatku Rumahku” bagi Sandra Syam sepertinya tidak berlebihan. Salah satu pramugari senior Sriwijaya Air ini mengaku mencintai profesinya sebagai flight attendant, “udah seperti rumah kedua buat aku”. Wanita kelahiran Jakarta, 21 Maret 1972 ini mengawali karir sebagai pramugari sejak tahun 1990 atau sudah sekitar 18 tahun lamanya.

“Awalnya aku sih pengen jadi psikolog, namun ketika melihat mengenai lowongan flightattendant di sebuah majalah wanita aku kok jadi tertarik”, Sandra bercerita tentang awal tertarik menekuni profesi pramugari ini. Setelah terjun sendiri melihat berbagai karakter penumpang membuatnya jadi tahu cara menghadapi dengan komunikasi yang baik seperti dalam ilmu psikologi.

Ibu dari Sheila Miranda-Bell ini mengaku juga suka bepergian ke tempat-tempat baru. Dengan menjadi pramugari, kesukaannya ini menjadi tersalurkan, “selain itu aku juga bisa beli oleh-oleh buat sendiri atau keluarga”. Tampaknya profesi yang ditekuni Sandra menular kepada anak semata wayangnya. Walaupun masih duduk di kelas 6 SD, Sheila sudah mengutarakan keinginan untuk mengikuti jejak sang mama. “Kata anakku enak bisa jalan-jalan kayak mama”, ujar Sandra lagi.

Menjadi seorang pramugari sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan, “Kita harus berwawasan, mandiri, siap mental, dan jangan berharap seperti kerja di kantor pada umumnya”. Selain itu jangan lupakan untuk tetap tersenyum walaupun kita dalam kondisi yang tidak mood atau tidak fit, “Karena kita harus membuat penumpang merasa aman dan nyaman selam dalam penerbangan”.

Selama berkarir di Sriwijaya Air, Sandra Syam merasakan benar-benar kekeluargaan yang erat dalam arti segala masalah dapat diselesaikan secara bersama-sama, “Aku merasa sekali kalau kita udah capek menjalani rute, namun seluruh kru baik di kokpit maupun di kabin masih bisa tertawa dan tersenyum”. Dia juga berharap agar penghargaan dari Boeing mengenai Safety dapat menjadi nilai tersendiri bagi Sriwijaya Air dan tetap dipertahankan.