Ricska Novi

ricska“Ricska”, ujarnya singkat mengawali sesi wawancara profil pramugari bulan ini. Kesan rendah hati begitu tampak dari senyum yang menampakkan pesona lesung pipitnya. Bulan puasa buat dara kelahiran tangerang 19 maret 1986 adalah bulan yang paling dinanti-nanti. “Yang namanya ramadhan kan bulan yang penuh berkah jadi segala hal baik yang kita kerjakan pahalanya menjadi berlipat”, senyumnya.

Anak ke-2 dari 5 bersaudara ini awalnya pengen kerja kantoran. Namun apa nyana, suatu ketika Ricska mengantar temannya untuk mendaftar menjadi pramugari di suatu sekolah penerbangan di daerah Duri Kosambi. Ternyata dia juga ditawari untuk ikut mendaftar dan akhirnya diterima. Lulus dari sana, Ricska diterima di Sriwijaya Air badge 7 pada tahun 2007 yang lalu.

Banyak pengalaman berkesan bahkan hingga memalukan mengiringi awal karirnya di Sriwijaya Air. “Pernah sepatu aku copot di tangga”, akunya. Selama berkarir di Sriwijaya Air, alumnus SMUN 6 Tangerang ini merasa betah karena suasananya yang menyenangkan, kekeluargaan yang erat, dan tidak ada senioritas.

Ditengah-tengah kesibukannya sebagai pramugari Sriwijaya Air, Ricska yang orang rumahan ini masih menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama keluarga, “kebersamaannya terasa banget deh”. Bagi Ricska keluarga adalah segala-galanya, tak heran apabila dia merasakan kehilangan ketika salah satu kakaknya pindah ke Jogjakarta, “rasanya kurang lengkap aja kebersamaan keluarga semenjak kakak pindah”.

Ketika ditanya harapan yang belum tercapai, Ricska langsung menjawab, “aku ingin kuliah lagi”. Selain itu, gadis berponi ini berangan-angan dapat menunaikan ibadah haji dari rejekinya menjadi pramugari bersama ibu dan ayah tercinta. Sungguh cita-cita yang mulia.