Galabo (Gladak Langan Bogan): Destinasi Kuliner Baru di Solo


Senja baru saja tenggelam di kota Solo. Bulan pun seperti enggan keluar dari kegelapan. Seperti biasa, kesibukan di salah satu jalan di jalan Mayor Sunaryo seketika berubah dari lalu lalang kendaraaan bermotor menjadi gerobak-gerobak makanan yang mencapai 200 stand yang berjejer rapi di sepanjang jalan yang berjarak sekitar satu kilometer.

Galabo adalah destinasi kuliner baru buat masyarakat solo ataupun wisatawan yang sedang berkunjung ke kota batik itu. Galabo merupakan singkatan dari Gladak Langan Bogan dan terletak persis di depan mall Pusat Grosir Solo (PGS). Beragam makanan khas Solo komplit tersedia di sini. “Kita jadi tidak usah pergi ke tempat yang berbeda karena di Galabo memenuhi semua selera individu”, ujar Yudi, warga Solo yang sedang asik menyantap sate sapi bersama kekasih.

Suasana temaram di sepanjang jalan memang menjadi keasyikan tersendiri bagi masyarakat Solo ataupun para pelancong. Ada dua pilihan untuk menyantap makanan yang dipesan, yakni meja bundar yang dipayungi tenda atau dengan lesehan beralaskan tikar. Keakraban akan lebih terasa jika menikmati santapan dengan lesehan. Setiap hari tidak kurang 1500 orang datang ke Galabo dan meningkat dua kali lipat pada hari sabtu dan minggu. Pengunjung yang datang pun bervariasi, mulai dari abg yang berdandan modis hingga keluarga ada.

Berbagai penganan terkenal dan melegenda yang dahulu tersebar di kota Solo kini ada di Galabo. Kuliner tersebut adalah sosis solo, susu shijack, nasi liwet, bubur lemu, wedang dongo, bestik lidah, gudeg ceker, dan yang tidak boleh terlewatkan adalah tengkleng klewer. Tengkleng adalah bagian tubuh kambing seperti kepala, rusuk, buntut, jeroan, hingga kaki dengan campuran kuah yang sangat gurih. Cara memakan tengkleng adalah dengan menyeruput hingga sampai ke sumsum tulangnya.

Sediakan waktu sedini mungkin jika Anda ingin berkunjung ke tempat ini. “Jam tujuh malam saja Galabo sudah ramai, dan biasanya tenda-tenda sudah terisi penuh” kata Yudi lagi. Namun tidak usah khawatir, karena bagi Anda yang terbiasa lesehan, para penjaja makanan biasanya sudah menyediakan tikar untuk konsumennya masing-masing.

Tak terasa waktu semakin malam, bulan pun mulai tampak di balik awan. Suasana khas Solo semakin terasa ketika musik keroncong mengalun. Tembang-tembang legenda seperti Bengawan Solo, Jembatan Merah, sampai Selendang Sutra seperti menghanyutkan pengunjung hingga larut. Tiga jam pun berlalu di Galabo.