DISTRIK SOLO

Sapa hangat meluncur dari para staf distrik solo begitu saya memasuki kantor distrik Sriwijaya Air di kota Solo. “Komunikasi efektif memang menjadi budaya yang saya terapkan di distrik ini”, demikian penjelasan Harnoko yang menjabat sebagai District Manager. Selain itu, penanggung jawab distrik Solo ini juga menerapkan kebiasaan  untuk berdoa sebelum mulai bekerja setiap hari.

Komunikasi efektif sebagai budaya tidak hanya diterapkan kepada para pelanggan atau customer yang datang, namun juga antar staf di distrik Solo. “Mereka saya biasakan untuk terbuka mengemukakan permasalahan atau hambatan yang dialami untuk kemudian dicari solusinya secara bersama-sama”, ungkap Harnoko. Hal ini diamini oleh salah satu staf bernama Suci, “pak Harnoko orangnya komunikatif sehingga kita menjadi terbiasa membiasakan berkomunikasi”.

Lokasi distrik Solo sangatlah strategis, di tengah kota, yang beralamat di jalan Yosodipuro No.135. Hal ini memudahkan akses para pelanggan dan 32 travel agent yang ada di kota Solo dan sekitarnya. Distrik Solo memiliki beberapa divisi yakni, accounting, sales, juga OB dan driver untuk mendukung tugas operasional.

Saat ini, menurut Harnoko lagi, rute penerbangan Jakarta-Solo PP termasuk rute yang selalu terisi penuh. “Dengan jadwal terbang saat ini yang dua kali sehari, masyarakat Solo meminta kami untuk menambah jadwal lagi”, tuturnya. Apalagi dengan akan hadirnya bandara baru yang lebih representatif di kota Solo.

Di Solo, selain kantor distrik dan operasional bandara, Sriwijaya Air juga memiliki mes representatif yang diperuntukkan untuk para kru pesawat. Setiap hari, para kru yang mendapat jadwal malam menginap di mes tersebut untuk kemudian berangkat pada jadwal pagi hari keesokan harinya.

Menurut “bos” Rudi, salah satu driver, para kru sangat senang menginap di mes karena Solo banyak memiliki kuliner yang enak, “paling sering mereka memesan ceker ayam atau bebek yang memang khas disini”. Komunikasi yang baik juga terjalin dengan para kru pesawat ini sehingga mereka merasa nyaman dan sejenak melupakan kelelahan. (Rizky Kertanegara)