Capt. Irvan Rosani

capt.irvan

Profil pilot kita bulan ini adalah capt. Irvan. Ditemui di rumahnya yang asri dan bergaya etnik bali, capt.irvan menyambut saya dengan ramah. “Saya memang pecinta desain etnik, tidak hanya bali, jawa juga ada”, tutur pemilik nama lengkap Irvan Rosani ini. Tidak heran di  rumahnya banyak ditemui hiasan rumah maupun aksesoris yang sangat etnik.

Pria kelahiran Jakarta, 4 februari yang lalu mengaku lebih senang menghabiskan waktu di mall, “tentu bersama keluarga sekedar makan atau jalan-jalan”. Kadang, ketika sedang di mall, suami dari Susan Andriani ini membeli aksesoris yang membuatnya tampil lebih modis. Hobi mengoleksi aksesoris atau pernak-pernik ini telah dilakoninya sejak lama. Dulu, ketika menjalani tugas terbang ke luar negeri, capt.Irvan selalu menyempatkan membeli cinderamata khas negara setempat. Selain sebagai koleksi, cinderamata ini juga menjadi suatu memori tersendiri pada negara yang pernah disinggahinya.

Selama kurang lebih 30 tahun. Capt.Irvan banyak mengalami pengalaman yang berkesan. “Lima benua sudah pernah saya singgahi” kenangnya. Jika Anda pernah melihat film perang “Behind Enemy Lines” dimana ada roket yang dapat mengejar pesawat, capt. Irvan pernah mengalaminya. “Waktu itu saya mengantar paket bantuan PBB untuk pengungsi di Angola, Afrika”. Ketika itu bandara adalah satu-satunya zona status quo. Bahaya roket mengancam para pilot pesawat setelah keluar dari zona tersebut. “Perlu teknik take off tersendiri untuk naik hingga ketinggian 17000 km di bandara saja”, tuturnya.

Dua tahun berkarir di Sriwijaya Air tentunya terbilang belum terlalu lama, namun capt.Irvan merasakan suasana kekeluargaan yang menyenangkan. Faktor kesejahteraan dan keselamatan pun selalu diperhatikan. Selain itu, tambahnya, komunikasi dengan pihak manajemen pun terjalin dengan baik sehingga tidak ada hambatan dalam menyampaikan saran demi kemajuan Sriwijaya Air tentunya.