Trans Jogja: Perjalanan menyusuri Jogjakarta dengan busway

trans jogjaSaat itu siang hari cukup cerah, aku baru saja tiba di stasiun tugu dari Jakarta. Kedatanganku kali ini untuk mengisi rasa kangenku akan kota Jogjakarta yang penuh kenangan. Konon, menurut teman-temanku yang terakhir berkunjung kesini, ada moda transportasi baru di Jogjakarta. Katanya sih meniru model busway di Jakarta. Alternatif mengelilingi kota budaya ini pun menjadi bertambah selain becak dan andongnya. Aku pun bergegas mencicipi transportasi baru ini dengan backpack di pundak.

Ternyata walaupun termasuk kota yang tidak begitu besar, Trans Jogja memiliki tiga rute perjalanan dengan masing-masing rute memiliki dua jalur berbeda. Tidak jauh dari stasiun Tugu aku mendapati terminal Trans Jogja dengan rute 1A. Setelah memasuki halte yang cukup simple namun nyaman, aku membeli tiket dengan harga yang tidak jauh berbeda dengan busway Jakarta yakni tigaribu rupiah. Setelah sedikit bertanya rute yang akan ditempuh, akhirnya aku memutuskan untuk menikmati perjalanan keliling kota pelajar ini.

Tidak berapa lama, Trans Jogja menghampiri halte Tugu Train Station. Ketika pintu dibuka, petugas yang disebut dengan pramugari menyapaku dengan hangat. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak turis betah berkunjung karena keramahan masyarakatnya. Rute yang akan aku tempuh melalui beberapa objek wisata yang sudah terkenal di Jogjakarta seperti Malioboro, Kantor Pos Besar, Kebon Binatang Gembira Loka, Jogja Expo Center, kemudian bandara Adi Sucipto, dan berakhir di Terminal Prambanan yang dekat dengan objek wisata Candi Prambanan.

Selama di perjalanan, aku takjub juga melihat penumpang yang tidak biasa aku temui di Jakarta. Ada ibu-ibu berkebaya, seniman gondrong, bahkan mahasiswi dengan dandanan ala ibukota. Akupun berkenalan dengan seorang ibu bersama anaknya yang kebetulan ingin mengunjungi candi Prambanan. Menurutnya, Trans Jogja menawarkan transportasi yang murah, nyaman, dan menjangkau lokasi-lokasi yang strategis di Jogjakarta. Ia pun tidak perlu khawatir pulang larut malam karena Trans Jogja beroperasi mulai pukul 6 pagi sampai pukul 10 malam.

Sejenak aku terpana melihat keaslian kota gudeg dengan pedagang kakilima, becak, andongnya berbaur dengan sentuhan modernitas. Mulai dari mall, restoran cepat saji, dan kafe-kafe yang dahulu cuma dapat ditemukan di Jakarta. “Sebentar lagi kita akan memasuki halte Kalasan, bagi penumpang yang akan turun mohon mempersiapkan diri”, Trans Jogja juga dilengkapi dengan pengumuman otomatis sebagai pemberitahuan kalau penumpang sudah sampai di halte tujuan. Aku pun bergegas turun di halte ini karena merupakan terminal akhir rute 1A Trans Jogja. Aku ingin melihat kembali candi Prambanan yang sempat terkena musibah gempa beberapa waktu yang lalu. Tak lupa aku sempatkan membeli bakpia patuk untuk kerabat di rumah.