Festival Budaya Pampang: Lebih dekat dengan kehidupan suku Dayak Kenyah

Cuaca saat itu begitu terik, saya pun bergegas berangkat menuju Pampang. Pampang adalah kawasan wisata desa budaya suku Dayak Kenyah yang terletak kurang lebih 20 km dari kota Samarinda. Setiap setahun sekali desa itu mengadakan festival budaya pampang yang kali ini digelar pada tanggal 26 Juni 2008. Saya berangkat dari Samarinda bersama bapak Sulaiman, beliau adalah salah satu staf dinas pariwisata provinsi Kalimantan timur.

Jalanan yang kami susuri sangatlah mulus karena baru saja diaspal. “Nantinya desa Pampang akan menjadi salah satu tujuan wisata para atlet PON yang telah bertanding”, ungkap bapak Sulaiman lagi. Walaupun begitu, Anda harus bersiap dengan kelokan-kelokan tajam dengan medan yang naik turun. Jalan yang kami susuri merupakan jalan poros yang menghubungkan kota Samarinda dan kota Bontang. Kurang lebih 30 menit kami sampai di persimpangan jalan menuju Pampang, dari sini masih menempuh jalan masuk sekitar 5 km. Jalan masuknya pun mulus walaupun tidak selebar jalan utama namun cukup dilalui oleh dua mobil.

Sampai di desa Pampang, terlihat suatu kawasan pemukiman yang dihuni oleh suku Dayak Kenyah. Konon desa ini terbentuk akibat perpindahan suku Dayak Kenyah dari Apokayan Kabupaten Bulungan melalui Muara Wahau, Long Segar, Tabang, Long Iram Kabupaten Kutai pada tahun 1967. Eksodus dalam kelompok (berjumlah lebih kurang 35 KK) bergerak dari utara menuju selatan hingga pada tahun 1973-an.

Sebuah rumah adat suku Dayak atau Lamin yang cukup besar menyambut kedatangan kami. Disinilah festival budaya diadakan dengan berbagai macam atraksi. Atraksi pertama biasanya dimulai dengan upacara Alak Taun untuk mencari hari baik memulai bercocok tanam. Setelah itu menyusul atraksi kesenian khas suku Dayak Kenyah seperti kancet punan letto, kancet lasan (gong), tari hudoq, tari manyam tali, kancet nyelama sakai, tari pemung tawai, tari burung enggang, tari leleng.

Selain atraksi budaya, digelar juga stan-stan yang menjual kerajinan khas suku Dayak Kenyah. Mulai dari kerajinan kayu seperti ukiran-ukiran hingga manik-manik berupa tas atau dompet. Dari sini saya menyadari bahwa potensi pariwisata Indonesia sangatlah beragam dan belum tentu dimiliki. Tinggal bagaimana strategi dinas pariwisata provinsi setempat menjadikan pariwisata sebagai sumber pemasukan daerah.