Nurvia Andarini

Awalnya Nurvia Andarini tidak menyangka akan menjadi seorang pramugari. Berawal dari hobi corat-coret dan melihat sosok ayahnya, Yuvi, begitu ia biasa disapa ingin menjadi seorang desainer. Impiannya itu mulai dirintis ketika mengambil kuliah jurusan fashion design.

Namun ternyata keputusan pemilik tinggi 160 cm dan berat 49 kg ini berubah setelah tantenya yang seorang pramugari sebuah maskapai penerbangan menawarkan untuk mendaftar menjadi pramugari.

Keraguan sempat muncul ketika harus memutuskan hobi yang disukainya sejak kecil atau memilih menjadi seorang stewardess. “karena ingin hidup mandiri dan tidak tergantung lagi dari orang tua, Yuvi mutusin untuk jadi pramugari”, keputusan yang walaupun pahit berakhir dengan manis.

Yuvi kemudian diterima menjadi pramugari Sriwijaya Air pada tahun 2007. Walaupun telah menjadi pramugari, gadis kelahiran kota kembang ini masih ingin melanjutkan kuliah desain dengan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung, “Yuvi pengen bisa jadi kayak Biyan, dia role model Yuvi di bidang desain”.

Dara yang masih berumur 18 tahun ini menyadari keputusannya untuk pisah dengan orangtua yang dicintai di usia muda cukuplah berat. “Tapi Yuvi seneng bisa ngebahagiain orang tua dan mereka sangat mendukung profesi Yuvi saat ini, ujar penggemar miniature anime ini. Selain itu dengan menjadi pramugari, wawasannya mengenai karakter dan budaya masyarakat Indonesia menjadi bertambah.