Capt. Dwi Lakso

Pepatah inggris di atas tidak berlebihan jika diibaratkan dengan perjalanan hidup captain Dwi Lakso. Berawal dari profesi sang ayah, Uwi kecil demikian biasa dia dipanggil, ingin menjadi seorang pilot seperti bapaknya. “Keadaan rumah sangat mendukung saya dari kecil hingga menjadi pilot karena saya laki-laki satunya dari empat bersaudara” ujar pria Solo kelahiran 15 September ini.

Walaupun sempat mengecap pendidikan teknik mesin di UPN Pondok Labu, keinginan menjadi pilot tak terbendung lagi. Akhirnya dengan dukungan penuh orang tua, keinginan menjadi pilot pesawat pun terwujud ketika dia lulus dari Juanda Flying School. “Sosok bapak membuat saya terpacu untuk lulus dari sekolah tersebut, kalau beliau bisa kenapa saya tidak”, jelas suami dari Tussy Suartika ini.

Awal karirnya bersama Sriwijaya Air merupakan satu kisah tersendiri. Banyak lika-liku dan rintangan yang dihadapi, namun semua hal tadi dapat diatasi oleh capt. Dwi Lakso. Saat itu tahun 2004 adalah saat dimana Sriwijaya Air masih berbenah diri dan dengan bantuan pilot berpengalaman seperti dirinya, Sriwijaya Air menjadi mapan dan mandiri seperti saat ini.

Pria yang hobi mengutak-atik mobil ini merasa pergaulan yang nyaman dan familiar membuatnya betah di Sriwijaya Air, “enak disini dan tidak ada gap”, jawabnya ketika ditanya kesan bersama Sriwijaya Air.

Waktu luang keluarga Dwi Lakso banyak dihabiskan bersama istri tercinta dan kedua anaknya. Bahkan saat ini salah satu dari dua anak capt. Uwi sudah mulai tertarik dengan profesi bapaknya walaupun tidak diarahkan untuk menjadi pilot. Sepertinya gen “dirgantara” memang sudah mengalir di darah keluarga besar Lakso.