08
Nov
09

KERIS: Sebuah Warisan Budaya diakui Dunia

 

Sejatinya, keris sebagai warisan budaya tentu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Namun, perlahan kebanggaan itu menjadi samar sampai akhirnya mencuat kembali setelah diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai salah satu warisan budaya dunia asli Indonesia. Kini, keris menjadi identitas bangsa yang sepatutnya dicintai bangsanya sendiri, Indonesia.

 

Keris merupakan senjata tradisional khas Indonesia. Senjata ini telah ada sejak abad ke-9 dan tersebar di berbagai wilayah Nusantara seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Lombok, dan Sulawesi. Bentuk keris awalnya hanya berbentuk bulat biasa. Seiring perkembangan, keris mengalami metamorfosa menjadi berbilah lurus panjang dan berbilah kelok (selalu berbilang ganjil). Mendengar kata keris mungkin pikiran Anda langsung tertuju pada kisah pembuat keris Mpu Gandring dalam kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Itulah sebabnya keris dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

 

Adalah Haryono Haryoguritno, seorang pencinta seni dan budaya, yang memperjuangkan keris sebagai warisan dunia. Lebih dari separuh usianya didedikasikan dengan melakukan penelitian terhadap warisan ini. “Keris merupakan ekspresi seni yang penuh falsafah, simbol, dan nilai,” ujarnya. Hingga akhirnya pada 2005, UNESCO mengakui keris sebagai warisan dunia atau tepatnya “A Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity”. Indonesia adalah satu dari tiga negara selain Jepang dan India yang memiliki dua mata budaya yang diakui UNESCO.

 

Ketertarikan Haryono Haryoguritno pada keris dimulai dari lingkungan keluarganya. Ayahnya adalah pencinta wayang dan keris, sedangkan ibunya adalah sastrawan. Suasana kehidupan budaya Jawa sangat dirasakannya sejak kanak-kanakl hingga ia dewasa. Ketika menekuni jenjang pendidikan di jurusan teknik ITB, ia berkenalan dengan profesor asal Jerman bernama Tromborough yang menyatakan kekagumannya akan detail keris yang sangat modern di zamannya. Terakhir, yang sangat mempengaruhi Haryono Haryoguritno menekuni kecintaannya pada keris adalah ketika menjadi ajudan Bung Karno setelah tidak menjabat sebagai presiden. “Beliau berkata, tulislah buku, lanjutkan penelitian. Itu sangat berkesan,” katanya.

 

Haryono Haryoguritno mengaku ingin menumbuhkan kecintaan generasi muda pada warisan budaya sendiri. Perlu dipahami bahwa keris sebagai benda budaya tidak sepenuhnya memiliki hal-hal yang berbau mistis. “Berawal dari ilmu paduwungan, yang pada awalnya bertujuan untuk memperkokoh kedudukan sang raja sehingga harus memiliki pusaka yang ampuh agar dianggap sebagai manusia setengah dewa,” ujarnya, bercerita. Oleh sebab itu, keris pun bisa dipelajari dan diterima nalar generasi muda.

 

Keris sebagai warisan dunia tentu perlu diperkenalkan kepada masyarakat dunia. Sempat timbul kekhawatiran akan terjadinya eksodus besar-besaran keris ke luar negeri. Namun, Haryono melihatnya sebagai sebuah prospek. “Kita harus mengenalkan lebih giat lagi keris, karena kita punya sesuatu yang bisa dibanggakan,” katanya. Memang, banyak keris pusaka kerajaan asal Indonesia yang malah menjadi milik museum-museum di Eropa, namun perpindahan itu terjadi sebelum Indonesia merdeka.

 

Sebagai pencinta seni budaya Indonesia, Haryono Haryoguritno juga menyimpan berbagai macam karya warisan bangsa Indonesia terutama keris di rumahnya yang asri. Beberapa diantaranya merupakan keris kuno pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Selain itu, banyak penggemar dan kolektor keris yang singgah untuk saling bertukar pikiran mengenai warisan budaya leluhur ini. Walaupun sudah berusia senja, Haryono Haryoguritno masih tetap bersemangat memberikan ceramah seperti di perguruan tinggi, lembaga sosial, dan juga masyarakat pencinta keris. Sesekali ia memenuhi undangan berceramah di forum internasional.

 

Jika Anda tertarik mengetahui seluk beluk keris, tak perlu khawatir karena Haryono Haryogurinto telah menulis karyanya berupa buku setebal 458 halaman dengan judul Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar. Buku ini menurutnya bisa dijadikan sebagai pedoman para pencinta keris maupun sebagai bahan referensi untuk penelitian. Atas usahanya memperjuangkan keris sebagai warisan budaya yang diakui oleh UNESCO, MURI (Museum Rekor Indonesia) memberikan apresiasi berupa penghargaan pada Desember 2007. Penghargaan terhadap perannya sebagai perintis pengakuan keris Indonesia sebagai karya agung warisan dunia.

 

Masih ada cita-cita Haryono Haryoguritno yang ingin diwujudkannya yakni memerjuangkan keris dalam dimensi ilmu. Krisologi namanya. Dalam ilmu ini tercakup berbagai mata studi seperti arkeologi, antropologi, sastra, juga sosiologi. “Jika Krisologi menjadi mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa, maka akan sangat berguna dalam pelestarian keris,” kata dia.

 

Selain itu, Krisologi juga dapat memberikan pandangan yang jelas terhadap keris agar tidak terjadi kesimpangsiuran. Di akhir pertemuan, Haryono Haryoguritno berpesan agar Keris sebagai identitas asli bangsa Indonesia harus terus dilestarikan dan dipelajari oleh generasi penerus. (Rizky Kertanegara/berbagai sumber)


08
Nov
09

TTO SERPONG: Membangun Tim yang Solid

Pada edisi kali ini redaksi Sriwijaya bertandang ke TTO (Ticketing Town Office) Serpong, Tangerang. Terlihat para karyawan sibuk melayani pelanggan yang datang. Namun, mereka tetap menyambut saya dengan baik. Tak lama, E Presley selaku Branch Manager datang dan kami pun mulai berbincang hangat.

“Kantor ini memiliki lokasi yang sangat strategis, karena berada di tengah-tengah perumahan elit yang banyak terdapat di kawasan Serpong,” ujar pemilik nama lengkap Engelbert Presley Libarto Sumanti ini. Maka, tidak mengherankan jumlah pelanggan individu dan travel agent yang bertandang hampir seimbang. Saat ini, TTO Serpong memiliki 63 travel agent yang tersebar di daerah Serpong, Tangerang, Ciledug, Bintaro, Lebak Bulus, Karawaci, Serang, dan Cilegon.

Untuk terus mencapai target, lulusan sarjana ekonomi ini melakukan berbagai kegiatan promosi melalui mall, pemberian voucher, dan melakukan gathering corporate. Pria berkacamata yang berkarir di Sriwijaya Air sejak 25 Septmber 2005 ini tentu membutuhkan dukungan dari semua karyawan. Untuk itu ia butuh tim yang solid. “Dengan tim yang solid maka setiap karyawan akan memiliki rasa loyalitas terhadap perusahaan. Untuk itu dibutuhkan saling kepercayaan dan keterbukaan,” ujarnya menjelaskan.

Menyambut hari kemerdekaan Repbulik Indonesia yang ke-64 nanti, TTO Serpong tidak lupa untuk melakukan perayaan khusus. Banner ucapan dirgahayu RI telah terpajang di depan kantor. “Kami juga akan mengadakan lomba-lomba yang khas tujuh belasan antar karyawan,” kata pria yang hobi berpetualang dan jalan-jalan ini. Menurutnya, keakraban yang terjalin sangat berguna untuk mempererat kekeluargaan di antara karyawan. Tidak hanya pada event seperti ini saja, setiap pagi pria kelahiran Batam, 12 Oktober 1975 ini selalu melakukan briefing dan doa pagi bersama. Maka, tak mengherankan jika Anda bertandang, kekompakan karyawan sangat jelas terlihat. (Rizky Kertanegara)

TTO SERPONG

Komplek Ruko Villa Melati Mas Fista Blok A1 No.12

Tlp. (021) 5315 3377

Fb Sriwijaya Serpong

08
Nov
09

Ika Puspita: Always be Safe

Ika Puspita

Jangan pernah meremehkan faktor keselamatan penerbangan. Itu prinsip yang dianut Ika Puspita ketika bertugas. “Saya selalu dan tidak pernah bosan untuk mencek kabin, sekali, duakali, sampai saya yakin bahwa kabin sudah safe,” ujarnya, menjelaskan. Sebagai awak kabin, Puspita menyadari benar bahwa ia adalah orang yang berhubungan langsung dengan penumpang dan perlu memberikan perhatian lebih melalui komunikasi yang baik. “Semakin kita berkomunikasi dengan baik, maka makin mengenal karakter penumpang sehingga akan lebih mudah menanganinya,” ujarnya seraya tersenyum.

Dara kelahiran 7 Agustus ini mengaku bahagia bisa menjadi flight attendant. “Sejak dulu saya sudah ingina menjadi pramugari. Apalagi saya ingin mandiri dan tidak menyusahkan orangtua,” tutur Ika, yang semasa SMA pernah menjadi anggota paskibra ini. Apalagi, maskapai Sriwijaya Air, tempatnya berkarier saat ini, memiliki suasana kekeluargaan yang membuatnya betah sehingga tidak berniat untuk pindah ke maskapai lain.

Pengalaman Puspita menjalani profesi sebagai awak kabin ternyata juga mengubah penampilannya sehari-hari. “Saya dulu termasuk tomboy, loh,” ujar alumnus SMA 4 Yuppentek Tangerang ini. Karena tuntutan profesi, ia pun mulai bersentuhan dengan peralatan make-up dan mulai tampil lebih feminin. Bahkan, beberapa penumpang pernah berkata bahwa ia mirip dengan musisi Maia Estianty. Kini, pemilik tinggi 165 cm dan berat 50 kg ini lebih sering mengenakan celana pendek dipadu dengan baju yang longgar. “Well, yang penting saya suka dan nyaman untuk memakai sehari-hari,” kata wanita yang memiliki mata indah ini.

Ada satu hobi yang juga tak bosan ia lakukan. “I’m movie freak,” ujarnya berbinar. Segala jenis film ia suka. Jika waktunya off duty, Puspita sering pergi ke bioskop bersama teman-temannya. Bahkan, perempuan yang mengaku masih single ini rela menonton sendiri saja di bioskop demi melakoni aktivitas ini. Beberapa film box office yang tayang bulan lalu seperti Ice Age, Transformer, Harry Potter, tak ingin dilewatkan begitu saja. By the way, is it safe watching movie alone? (Rizky Kertanegara)

06
Nov
09

Surabaya: Menyusuri Jejak-jejak Pahlawan

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kota Surabaya? Pertempuran 10 November 1945, Bung Tomo, sampai bambu runcing pasti muncul dalam ingatan Anda. Surabaya, atau yang akrab disapa dengan Kota Pahlawan, memang memberikan suatu memori perjuangan. Berbagai kisah tersaji tentang bagaimana rakyat Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kini, Surabaya berkembang menjadi kota metropolitan yang tak kalah dengan kota-kota besar lain di Indonesia. Gedung-gedung perkantoran dan mal seolah berlomba berdiri menunjukkan kemajuan ekonomi yang signifikan. Lalu, masih adakah jejak-jejak pahlawan yang tersisa di Surabaya? Wisata sejarah dapat Anda mulai dari Tugu Pahlawan. Tugu yang dibangun untuk memperingati pertempuran 10 November 1945 ini memang menjadi ikon Kota Surabaya. Memiliki tinggi 45 meter dan sisi sebanyak 10 bidang, lokasi monumen ini mudah dijangkau karena terletak di tengah kota dan berseberangan dengan kantor gubernur Jawa Timur. Tugu yang menjadi satu dengan Taman Kebunrojo ini diresmikan pada 10 November 1962 dan selalu menjadi pusat peringatan Hari Pahlawan. Tak jauh dari Tugu Pahlawan, Anda patut mampir sejenak di Hotel Majapahit Mandarin Oriental. Hotel ini dulunya bernama Hotel Orange atau Hoteru Yamato yang terkenal dengan peristiwa penurunan bendera Belanda. Alkisah, setelah Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara berdaulat, sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Belanda pada tiang bendera yang terdapat di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Menganggap hal itu sebagai tindakan provokatif, Resimen Soedirman memerintahkan sekutu menurunkan bendera, namun ditolak. Kemudian, terjadilah peristiwa penurunan bendera belanda oleh empat pemuda, yang kemudian bagian berwarna birunya dirobek dan dikibarkan kembali pertanda kedaulatan Indonesia tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Kawasan lain yang juga sarat dengan sejarah peninggalan masa penjajahan hingga masa mempertahankan kemerdekaan adalah kawasan jalan Pemuda. Ada dua tempat historis yang tidak boleh terlewatkan. Yang pertama adalah Balai Pemuda yang pada masa kemerdekaan menjadi markas Pemuda Republik Indonesia. Saat ini bentuk gedungnya masih bertahan dan masih digunakan sebagai pusat kegiatan seni, pameran, pagelaran musik, dan resepsi pernikahan. Tempat kedua adalah Monumen Kapal Selam (Monkasel) yang terletak persis bersebelahan dengan Plaza Surabaya. Monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410 yang pernah digunakan dalam pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat. Kapal Selam yang dibuat tahun 1952 ini kemudian dialihfungsikan sebagai objek wisata sekaligus memperingati keberanian pahlawan laut Indonesia. Seorang pemandu wisata akan menemani Anda melihat bagian-bagian dalam kapal selam ini. *** Bicara mengenai laut, kota Surabaya juga menjadi basis terbesar Angkatan Laut Indonesia. Di kota ini terdapat Akademi Angkatan Laut (AAL) tempat pendidikan para calon perwira Angkatan Laut. Yang fenomenal tentu keberadaan Monumen Jalesveva Jayamahe berbentuk patung perwira Angkatan Laut lengkap dengan pedang kehormatan, berdiri tegak menghadap ke laut. Monumen ini memiliki tinggi 85 meter dan tinggi patung hampir 31 meter, tertinggi kedua setelah Patung Liberty di New York. “Jalesveva Jayamahe” merupakan semboyan dari TNI AL yang berarti “Di Lautan Kita Jaya”. Patung karya Nyoman Nuarta ini menjadi cerminan kebesaran sejarah Indonesia sebagai bangsa bahari. Selain sebagai museum, monumen ini juga berfungsi sebagai menara suar bagi kapal yang melintas di dermaga Ujung Surabaya. Sejarah nama kota Surabaya berasal dari dua kata, yakni “Sura” yang berarti ikan hiu dan “Baya” yang bermakna buaya. Konon, dahulu ada mitos pertempuran antara ikan Sura dan Baya yang menimbulkan dugaan munculnya nama Surabaya ini. Tak mengherankan jika kemudian jika Hiu dan Buaya menjadi simbol kota ini. Namun berdasarkan sejarawan, Surabaya berasal dari kata “Sura ing Bhaya” yang berarti “Keberanian menghadapi Bahaya” yang diambil dari sejarah takluknya pasukan Mongol oleh pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya pada 31 Mei 1923. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari jadi kota Surabaya. Melihat obyek-obyek wisata sejarah di Kota Pahlawan ini tentu merupakan potensi besar yang harus dimanfaatkan dan dinikmati. Perkembangan ekonomi yang pesat tentu diikuti dengan perbaikan dan penambahan jaringan infrastruktur yang memadai. Surabaya akan terus berkembang mengikuti pertumbuhan zaman, tapi jangan sampai menghilangkan jejak-jejak dan nilai-nilai yang dikumandangkan para pahlawan. (Rizky Kertanegara/berbagai sumber)

06
Nov
09

Capt. Joffy Adestian

Capt_Joffy1

Captain Cat

 

Jika peraturan membolehkan awak pesawat membawa hewan peliharaannya, pilot Sriwijaya Air bernama Joffy Adestian tentu akan senang membawa kucing-kucing kesayangannya. “Sudah empat tahun saya hobi memelihara kucing. Jika selesai bertugas, rasanya ingin cepat sampai di rumah,” ujar Capt. Joffy. Pria kelahiran Pekanbaru ini lebih senang disebut sebagai orang rumahan, menghabiskan waktu libur bersama keluarga di rumah dan merawat empat kucing peliharaannya.

Mengaku tertarik dunia penerbangan sejak SMP, selepas SMA Capt. Joffy memutuskan mendaftarkan diri pada Navair International Flying College di Sydney, Bankstown, Australia. “Being a pilot is the coolest carrier,” katanya. Selain itu pria yang dibesarkan di Duri, Riau ini mengaku menjalani profesi pilot sangat menarik dan menyenangkan.

Lulus pada 1998, Capt. Joffy sempat merasakan dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Kemudian, ia berkarier sebagai Ramp Officer Garuda Indonesia saat musim haji  tahun 2001 sampai 2002 di Jeddah, Arab Saudi. Berbekal pengalaman itu, suami dari Annissa Sudjatmiko ini mantap memilih Sriwijaya Air sebagai tempatnya berkarier sebagai pemegang kemudi si burung besi. “Sudah lima tahun lamanya saya di Sriwijaya Air, selama itu pula saya merasakan suasana yang penuh kekeluargaan,” ujarnya, bercerita.

Waktu luang dan liburan bagi Capt. Joffy adalah waktu sepenuhnya untuk keluarga. “Justru di rumah saya bisa melepas penat, menonton film bersama keluarga atau barbequeing di halaman belakang rumah. Soal rasa sate dan BBQ racikan saya boleh diadu lho,” ujarnya, seraya tersenyum. Selain itu hobi unik lain yang dimilikinya tentu saja memelihara kucing ras. Saat ini ia memiliki empat kucing yang masing-masing diberi nama Gizmo, Blaque, Baron, dan Mystique. “Hobi yang menyenangkan dan menghibur,” kata pria berkacamata ini.

Ada kabar gembira yang ingin disampaikan oleh capt.Joffy. “Setelah lima tahun menunggu. InsyaAllah pertengahan bulan Agustus ini istri saya akan melahirkan bayi kembar,” ucapnya sumringah. Penantian panjang akan buah hati akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT. (Rizky Kertanegara)

06
Nov
09

Nur Indah “NIA” Kurniasih

Niong

Ingin Berlibur ke Lombok

Musim liburan telah tiba, tapi hal ini tidak berlaku bagi Nur Indah Kurniasih pramugari Sriwijaya Air. “Musim liburan justru kita mengantarkan penumpang yang ingin berlibur,” ujar perempuan yang akrab disapa Nia, ini. Walaupun begitu, ia menjalani musim peak season ini dengan pelayanan yang ramah agar penumpang memiliki kesan mendalam saat menggunakan jasa penerbangan Sriwijaya Air.

Gadis kelahiran Purbalingga ini mengaku bercita-cita menjadi pramugari sejak kelas 2 SD. “Apalagi orangtua sangat mendukung pilihan hidup saya ini karena dapat melatih kemandirian dan  melatih kedisiplinan,” ujar Nia yang akan berulangtahun pada 14 Juli nanti. Anak dari Siti Zakiyah dan Joko Suripto ini juga mengaku banyak belajar mengenal berbagai macam karakter manusia. “Setiap penumpang punya karakter yang berbeda-beda, dari situlah saya belajar memberi pengertian perihal keamanan dan keselamatan penerbangan,” kata sulung dua bersaudara ini.

Banyak pengalaman unik dan berkesan selama hampir empat tahun Nia menjadi awak kabin Sriwijaya Air. “Awak kabin itu kerja tim, jadi susah senang harus ditanggung bersama,” ucapnya penuh makna. Belum lagi pengalaman dengan penumpang yang mengagumi kecantikannya. “Ada yang bilang mirip artis Peggy Melati atau Nafa Urbach. Saya anggap pujian biasa saja, saya tetaplah Nia yang sederhana dari Purbalingga,” kata pemilik tinggi 164 cm dan berat 50 kg ini.

Berkat profesi pramugari juga, Nia dapat membiayai orang tuanya beribadah haji di tanah suci Mekkah. “Saya bersyukur dapat membahagiakan orangtua karena merekalah yang membesarkan dan mendidik hingga Nia bisa ada di titik sekarang ini,” ujar wanita yang tinggal di kawasan kelapa gading ini. Saat ini, Nia menabung sebagian penghasilannya untuk memenuhi keinginannya membeli rumah.

Waktu day off di musim liburan ini lebih banyak dihabiskan Nia untuk beristirahat. “Jika nanti ada waktu, saya ingin ke Lombok menikmati keindahan Pantai Gili Trawangan bersama sahabat,” katanya, penuh harap. Wanita yang mengaku single ini ingin melepas penat sambil mengabadikan dirinya dengan berfoto bersama sahabat di pantai nan eksotis itu. (Rizky Kertanegara)

06
Nov
09

HOME: “See, Think, Act!”

Lihat, Pikir, dan bertindak!. Mungkin tiga hal tersebut menjadi kepedulian Yann Arthus-Bertrand terhadap Bumi, tempatnya hidup bersama makhluk hidup lainnya. Melalui profesinya sebagai fotografer udara, Arthus-Bertrand ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana keadaan Bumi saat ini melalui tampilan foto kepada masyarakat dunia. Betapa keindahan panorama alam ini tidak akan bertahan lama jika manusia sebagai penjaganya tidak segera bertindak mencegah kerusakan alam yang semakin parah.

 

Siapakah Yann Arthus-Bertrand? Mengeja namanya saja mungkin Anda sudah memperkirakan bahwa dia adalah seorang berkewarganegaraan Prancis. Arthus-Bertrand telah memproduksi ribuan foto udara dari helikopter dan balon udara. Beberapa karyanya sering tampil daam National Geographic Magazine. Sebelumnya, di tahun 2000, Arthus-Bertrand menyelenggarakan pameran bertajuk Earth From the Air dengan lebih dari 100.000 koleksi foto dari 76 negara. Berkat foto-fotonya itu, ia memperoleh Legion d’honneur yang merupakan penghargaan sipil tertinggi di Prancis.

 

Jika Anda memiliki televisi berbayar, mungkin Anda sudah familiar dengan program Vu du Ciel. Program ini memiliki tujuan memberikan kesadaran akan perubahan iklim dan pemanasan global yang sedang terjadi dengan menampilkan foto-foto Arthus-Bertrand. Ia berharap program ini dapat menjadi sebuah program edutainment untuk pelestarian lingkungan. Di akhir acara, Arthus-Bertrand menyebutkan bahwa program ini melibatkan pesawat dan helikopter yang membuang berton-ton gas karbon dioksida. Untuk itu, ia menggantinya dengan berpartisipasi dalam berbagai komunitas pelestarian lingkungan di seluruh dunia.

 

Dalam rangka memperingati hari lingkungan dunia 2009 yang jatuh setiap tanggal 5 Juni, Arthus-Bertrand meluncurkan film perdananya berjudul HOME. Film ini berisikan seluruh karya-karya fotonya yang diambil dari seluruh penjuru dunia. Hasil jepretan terbaiknya adalah foto kumpulan tanaman sayuran yang membentuk hati di Voh, Kaledonia Baru.

 

“Kehidupan, suatu keajaiban di alam semesta, muncul sekitar 4 miliar tahun yang lalu. Dan kita, manusia, hanya 200.000 tahun yang lalu. Tetapi kita telah mengganggu keseimbangan yang sangat penting untuk kehidupan.”

(Judul Pembuka Home)

 

HOME bukan hanya sekadar film karena untuk pertama kalinya dalam sejarah sebuah film dirilis pada hari yang sama di lebih dari 50 negara dalam berbagai format: bioskop, televisi, DVD, dan internet. “Kesuksesan film ini tidak dihitung dari jumlah dolar atau euro yang didapat, tetapi dari jumlah orang yang telah menyaksikannya,” ujar sang sutradara, Yann Arthus-Bertrand.

 

Penasaran? Anda bisa mengakses situs www.home-2009.com untuk melihat karya fenomenal ini secara gratis. Lihat, Pikir, dan segera ambil Tindakan! (Rizky Kertanegara/berbagai sumber)

BOX

WORLD ENVIRONMENT DAY

World Environmet Day atau hari Lingkungan se-Dunia diperingati setiap tanggal 5 Juni di seluruh dunia. Pertama kali diresmikan pada sidang umum PBB tahun 1972. Tujuan peringatan ini adalah untuk merayakan keindahan lingkungan tempat kita berpijak dan menginspirasikan masyarakat bersama pemerintah untuk melestarikannya.

 

Berbagai aktivitas dan event diselenggarakan di seluruh dunia. Setiap tahun, PBB meluncurkan tema khusus dan negara khusus sebagai pusat penyelenggaraan. Tahun 2009, temanya adalah “Your Planet Needs You-Unite to Combat Climate Change” yang merefleksikan kepada seluruh negara untuk menyetujui perubahan baru pada konvensi perubahan iklim di Kopenhagen yang beberapa poin pentingnya adalah pengentasan kemiskinan dan peningkatan manajemen hutan.

 

Jika Anda memiliki akun Twitter, jangan lupa untuk menjadi follower Trees. Setiap follower baru, UNEP (United Nations Environment Programme) akan menanam satu pohon sebagai peringatan pada World Environment Day.

06
Nov
09

Era Soekamto

Industri Fesyen juga punya Masa Depan

Nama Era Soekamto kini menjadi buah bibir dunia fesyen Indonesia. Perhatian wanita kelahiran 3 Mei ini pada budaya Indonesia yang dituangkan ke dalam rancangan yang modern patut dihargai. Mengaku bercita-cita menjadi desainer sejak kelas 5 SD, kini alumnus Lasalle International Fashion College Singapore ini memiliki tiga label masing-masing UrbanCrew, X Label, dan brand dengan namanya sendiri Era Soekamto. Berikut wawancara Sriwijaya dengan Era Soekamto yang bicara banyak dunia fesyen dan kombinasinya dengan warisan budaya Indonesia:

1. Siapa inspirasi terbesar Anda ketika memutuskan untuk menjadi seoarang perancang?

Inspirasi terbesar tentu ibu saya. Beliau yang memberikan contoh bahwa perempuan wajib untuk berpenampilan baik, menghargai kain dan busana daerah. Selain itu beliau yang mengajarkan saya untuk kuat dan mandiri. Pilihan profesi yang ini mungkin masih dianggap aneh dan tidak bermasa depan. Hal ini kemudian menjadi ajang pembuktian saya bahwa fesyen dan indsutri kreatif jika dijalankan serius dan konsisten juga dapat berprestasi dan punya masa depan yang cerah.

3. Momentum kepuasan apa yang didapat dengan menjadi perancang?

Saat yang paling memuaskan adalah dimana klien merasa sangat puas akan hasil karya saya, review media yang positif, dan apabila tim saya bisa menerjemahkan desain saya dengan kesempurnaan mutu dan kualitas tanpa komplain sedikitpun.

2. Bagaimana Anda mendefinisikan rancangan-rancangan Anda?

Saya adalah style maker yang dapat meramu konsep, brand architecture, beserta lifestylenya. Brand Era Soekamto, X label, dan Urban Crew punya karakter yang sangat berbeda. First line-Era Soekamto memiliki desain yang sangat stabil, mewah,  dan anggun, second line-X label khusus untuk fractal batik kontemporer dengan gaya kosmopolitan dan chic, dan third line-Urban Crew yang rebellious dan nyeleneh. Semua brand memiliki karakter yang bertolak belakang tapi memiliki benang merah yakni garis yang tegas, edgy, dan maskulin tapi tetap feminin.

7. Ada perbedaan pada masing-masing label ini?

Perbedaannya jelas di target market yang dibidik, desain dan material, harga, warna, dan kualitas, juga cara mendistribusikannya. First line saya (Era soekamto) lebih ke baju made to measure artinya sangat pribadi dan eksklusif. Era Soekamto ready to wear deluxe dan X label dapat diakses di butik Style di Plaza Indonesia lantai 2 yang akan dibuka pada bulan Agustus ini, dan Urban Crew dengan konsep retail dan wholesaling.

4. Bagaimana Anda melihat potensi kain-kain Indonesia sebagai salah satu kekayaan budaya?

Saya melihatnya sebagai warisan yang wajib dilestarikan dan dikembangkan. Karena kain-kain ini memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi identitas bangsa. Untuk hal ini diperlukan kesadaran yang luar biasa akan apresiasi terhadap kekayaan yang kita miliki dan menjadikannya kekuatan karakter bangsa agar Indonesia mempunyai harga diri di mata dunia.

6. Kesibukan Anda saat ini?

Saya sedang mempersiapkan brand Urban Crew pada HongKong Fashion Week (5-10 Juli 2009). Sempat vakum dari distribusi lokal sejak 2 tahun terakhir, brand ini saya konsentrasikan untuk pasar internasional terlebih dahulu, sambil mempersiapkan infrastruktur dan segala sesuatunya.

8. Bagaimana Anda melihat Era Soekamto saat ini?

Tidak bisa diam, terus belajar dan mengajar, sangat aktif memperjuangkan apresiasi terhadap budaya dan sources Indonesia, industri fashion dan industri kreatif pada umumnya,  multifungsi, dan spiritual.

9. Gairah fesyen masyarakat tidak menurun walaupun dilanda krisis global, namun mereka lebih memilih brand luar, bagaimana Anda melihatnya?

Sandang adalah kebutuhan dasar manusia, hanya sekarang bukan hanya dipakai sebagai fungsi saja namun untuk emotional benefit yang membuat manusia menjadi lebih percaya diri, meningkatkan strata sosial, serta outcome perkerjaan yang berbeda lebih terasa.

Hal ini tentu menjadi tantangan brand lokal untuk menciptakan produk dengan kualitas yang lebih baik, kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia, peluang membuat harga yang lebih terjangkau, dan persaingan brand yang jauh lebih fleksibel karena semua keputusan masih tahap lokal dan dapat lebih lentur atau fleksibel.

10. Saran bagi yang ingin menjadi perancang dan bagi perancang yang ingin menjadi entrepreneur?

Cintai profesi apapun yang kita pilih, karena karya yang kita buat dengan passion akan lebih mampu menyukseskan kita dari pada sekedar asal buat. Penggabungan antara kreatifitas dan entrepreneurship terlihat sangat mudah tetapi sulit dijalankan. Hal ini membutuhkan keseimbangan berpikir, leadership, dan kemampuan manajerial yang tajam supaya apapun karya kita dapat terlaksana dengan prima. Satu lagi, Jangan pernah berhenti belajar!

11.  Apa hal utama yang menjadi pertimbangan Anda memilih maskapai penerbangan?

Kesibukan saya sebagai perancang tentu tak lepas dari jasa transportasi udara. Rasa aman dan nyaman menjadi pertimbangan saya memilih maskapai udara. Sriwijaya Air dengan citra yang semakin membaik tentu juga bisa menjadi pilihan saya dan perancang-perancang lain di Indonesia, jika pengaturan bagasi dan OTP (On Time Performance)-nya baik. (Rizky Kertanegara)

06
Nov
09

DISTRIK CENGKARENG

Beri Kenyamanan Saat Liburan

Bulan Juli ini adalah salah satu bulan tersibuk. Hal ini tidaklah mengherankan karena bulan ini adalah puncak dari masa liburan sekolah. Banyak dari masyarakat memanfaatkan masa liburan ini bersama keluarga bepergian dengan menggunakan jasa transportasi udara. Kendala-kendala yang muncul dan tak bisa dihindari seperti jumlah tiket, pengaturan bagasi, dan keterlambatan jadwal coba diantisipasi dengan pelayanan yang prima dan maksimal dari para staf distrik Cengkareng. Berikut penuturan Triprakoso Raharjo selaku District Manager Cengkareng mengenai persiapan menghadapi peak season kepada Sriwijaya:

 

Musim liburan berarti peak season, apa yang Anda lakukan bersama para staf dalam mengantisipasi hal ini?

Saya memahami bahwa distrik Cengkareng memiliki peran strategis sebagai ujung tombak Sriwijaya Air karena bersentuhan langsung dengan para penumpang. Untuk itu saya memersiapkan para staf untuk memberikan service yang terbaik kepada para penumpang. Hal ini sangat penting karena akan langsung memberikan citra yang baik di benak penumpang. Kami berpedoman untuk tidak ingin mengecewakan para penumpang meski mungkin berbagai hal yang tidak kita inginkan bersama dapat terjadi dan tidak dapat dihindari seperti keterlambatan jadwal penerbangan. Salah satu perbaikan yang telah dilakukan adalah re-desain outlet ticketing menjadi lebih modern, elegan, dan nyaman.
Budaya kerja yang paling Anda utamakan untuk mensinergikan visi dan misi perusahaan kepada para karyawan?

Saya selalu menekankan disiplin kerja kepada setiap staf karena dengan disiplin mereka dapat memahami tujuan dari bekerja. Untuk mensinergikan visi dan misi Sriwijaya Air maka diperlukan koordinasi dan komunikasi yang baik. Hal ini tentu bukan pekerjaan sepele karena airport Cengkareng merupakan home base operasional apalagi dengan jumlah staf yang besar.

Visi dan misi kami selalu berpedoman pada motto Sriwijaya Air yakni Service Excellent. Visinya adalah mendapatkan profit maksimal untuk perusahaan, sedangkan misinya adalah memberikan kenyamanan penumpang pada saat berada di bandara.

 

Apa tantangan paling berbeda dari jabatan Anda sebelumnya?

Sungguh ini merupakan sebuah kehormatan dipercaya Sriwijaya Air sebagai District Manager Cengkareng. Dulu, saya lebih banyak berinteraksi dengan internal perusahaan. Sedangkan saat ini, saya harus banyak bergaul dan berkomunikasi baik dari internal maupun eksternal. Saya memiliki target untuk memberikan segala kemampuan terbaik saya untuk perusahaan dengan semangat untuk berkembang dan maju. (Rizky Kertanegara)

28
Jul
09

Aircraft Student Visit

Berlibur dan Mengenal Sriwijaya Air

Saat liburan sekolah, Sriwijaya Air mengadakan kegiatan unik yang dikhususkan kepada anak-anak sekolah tingkat SD sampai TK. “Program Aircraft Student Visit merupakan sebuah program liburan sekaligus pengenalan terhadap maskapai Sriwijaya Air”, kata Ari Mercyanto selaku Service Support & Control Manager. Service Department Sriwijaya Air menjadi koordinator dalam kegiatan ini.

Program ini dimulai pada 6 Juni 2009 dengan mengundang siswa-siswi dari SD Cinta Kasih Tzu Chi. Mereka berkumpul rapi di terminal 1B, bandara Soekarno-Hatta. Kemudian, dipandu oleh staf Sriwijaya Air, mereka dipandu untuk memperlihatkan aktivitas yang ada di bandara, mulai dari ticketing, check-in counter, boarding gate, memperkenalkan seluk beluk pesawat Sriwijaya Air, sampai di lokasi kedatangan. Kebanyakan dari mereka memang baru pertama kali mendapatkan kesempatan mengunjungi bandara sehingga tampak antusias.

Setelah selesai, para siswa mendapat kesempatan berfoto bersama dan melakukan tanya jawab di anjungan. Lokasi anjungan ini juga menarik siswa karena dapat melihat pergerakan pesawat dan kegiatan lainnya di sisi udara. Semoga program ini dapat mejadi kegiatan liburan sambil menambah wawasan yang mengesankan dan tak terlupakan bagi anak-anak. (RK)




 

Februari 2010
S S R K J S M
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Arsip

Blog Stats

  • 35,697 hits

Halaman

Top Rated